Hantu Lokal, Pasar Global: Mengapa Kuntilanak Sulit Tur ke Sulawesi
Saya sering bertanya-tanya, dengan nada heran yang sudah kelelahan:
kenapa hantu itu nasionalismenya tinggi sekali?
Di Jawa, hantunya itu-itu saja. Seperti ASN yang ditempatkan seumur hidup.
Pocong ya pocong. Kuntilanak ya kuntilanak. Rambut panjang, putih, jeritannya konsisten.
Tidak ada yang tiba-tiba bilang, “Maaf saya mutasi dari Sumatera.”
Begitu menyeberang pulau, dunianya ganti total.
Hantu Jawa tidak pernah nyasar ke Sumatera.
Hantu Sumatera juga tidak pernah iseng backpacking ke Kalimantan.
Seolah-olah mereka punya KTP daerah, KK gaib, dan tidak lolos seleksi zonasi.
Setiap provinsi punya hantu endemik.
Seperti flora dan fauna, tapi lebih rajin muncul malam hari.
Ini membuat saya curiga.
Kalau hantu itu makhluk alam lain, bukankah seharusnya mereka bebas lintas wilayah?
Kenapa tidak ada laporan pocong tersesat di hutan Amazon?
Kenapa tidak pernah ada kuntilanak transit di Bandara Changi?
Lalu saya sadar:
hantu itu bukan makhluk lintas dimensi. Ia makhluk lintas budaya.
Hantu lahir dari imajinasi kolektif.
Ia tumbuh dari ketakutan yang diwariskan, dari cerita yang diulang, dari malam-malam gelap yang kebetulan tidak ada listrik.
Hantu adalah anak sah dari lingkungan.
Makanya beda daerah, beda bentuk.
Karena ketakutannya beda.
Di Jepang, hantunya lebih estetik.
Pucat, sunyi, rambut rapi—kadang malah terlalu rapi.
Bahkan jujur saja, sebagian lebih sering mengundang birahi pria cabul ketimbang rasa takut.
Horor tapi kok sensual? Ini hantu atau kritik sosial terselubung?
Di Cina, lebih absurd lagi.
Vampir lompat-lompat pakai baju dinasti, seperti mau ke festival tapi salah kalender.
Saya tidak takut. Saya bingung.
Ini mau menghisap darah atau mau tampil di panggung budaya?
Di Barat, hantunya suka rumah besar, loteng, dan trauma keluarga.
Sangat psikologis.
Di Asia Tenggara, hantunya suka pohon, sawah, dan kuburan.
Lebih membumi. Lebih dekat dengan tanah, lumpur, dan cerita nenek.
Lalu pertanyaan berikutnya muncul, pelan tapi jahil:
kenapa hantu sekarang jadi komoditas?
Jawabannya sederhana dan agak menyedihkan:
karena takut itu laku.
Hantu dijual sebagai film, konten, game, podcast, wahana wisata, bahkan merchandise.
Dari makhluk pengganggu tidur jadi bintang poster.
Dari “jangan keluar malam” jadi “tayang Jumat ini”.
Hantu modern tidak lagi menakutkan.
Ia produktif.
Ia punya manajer pemasaran.
Setiap budaya menjual hantunya sendiri.
Karena yang dijual bukan makhluknya, tapi cerita dan identitas lokalnya.
Hantu Jawa laku karena nostalgia ketakutan masa kecil.
Hantu Jepang laku karena visual dan simbol kesepian.
Hantu Cina laku karena absurditas tradisi dan estetika.
Saya tertawa, lalu sedikit merenung.
Mungkin hantu tidak pernah benar-benar ada.
Yang ada hanyalah cara manusia mengemas rasa takutnya.
Dan rasa takut, kalau dibungkus rapi,
bisa jadi tontonan, dagangan, bahkan hiburan keluarga.
Jadi ketika saya mendengar orang bilang,
“Di sini banyak hantunya,”
saya ingin menjawab pelan:
“Iya. Karena di sini banyak cerita.”
Dan akhirnya saya paham:
hantu tidak berbeda-beda karena dunianya yang aneh,
tapi karena manusianya yang kreatif.
Kalau suatu hari semua orang berhenti takut,
mungkin hantu-hantu itu akan punah.
Bukan karena diusir.
Tapi karena tidak ada lagi yang mau menceritakan mereka.
0 komentar