Sarata Sarutu Saluyu Salamet: Doa yang Tidak Pernah Masuk Kamus

by - 12:00 AM


Ada kalimat yang tidak pernah diajarkan secara resmi, tidak tercetak di buku pelajaran, tidak muncul di mesin pencari, tapi entah bagaimana selalu hadir di kepala dan mulut orang-orang tua:
sarata sarutu saluyu salamet ku kersaning Allah.

Ia bukan mantra dalam arti magis, bukan pula doa baku seperti yang dilafalkan di mimbar. Ia hidup di sela-sela. Diucapkan sambil melangkah keluar rumah, sambil menutup pintu, atau sekadar dibatin ketika hati terasa agak goyah. Tidak ada yang pernah benar-benar menjelaskan artinya. Yang ada hanya satu pesan implisit: ucapkan saja, nanti juga beres.

Sebagai anak, saya tidak bertanya. Ada kalimat yang memang tidak untuk ditanya. Ia bekerja bukan lewat penjelasan, tapi lewat pengulangan. Dalam antropologi, ini bukan kebodohan kolektif, melainkan cara kebudayaan menjaga kestabilan batin tanpa harus repot-repot rasional.

Kata sarata terdengar tua, berat, seolah membawa sisa-sisa bahasa tinggi yang pernah hidup sebelum kita lahir. Apakah ia dari Sanskerta, atau sekadar serpihan bunyi yang diwariskan tanpa kamus—tidak ada yang benar-benar tahu. Justru di situ kekuatannya. Sarata tidak dimaksudkan untuk dipahami secara presisi, melainkan dirasakan sebagai tanda kesiapan, keteguhan, atau sekadar kondisi “sudah ditata”.

Lalu datang sarutu. Kata yang lebih misterius. Tidak jelas artinya, tidak punya padanan langsung. Tapi ia selalu hadir berpasangan. Dalam tradisi lisan, pasangan seperti ini bukan cacat bahasa, melainkan irama makna. Sarata tanpa sarutu terasa timpang. Sarutu tanpa sarata kehilangan pijakan. Keduanya seperti berkata: apa pun artinya, yang penting kita tidak berangkat dalam keadaan tercerai-berai.

Setelah itu barulah kalimat ini menjejak tanah lewat kata saluyu. Ini kata yang bisa dipahami siapa saja. Saluyu artinya sejalan, tidak bertabrakan, tidak melawan arus. Dalam kosmologi lokal, hidup tidak rusak karena salah langkah, tapi karena langkahnya tidak saluyu dengan waktu, dengan orang lain, dengan diri sendiri. Saluyu bukan soal benar-salah, tapi cocok atau tidak cocok.

Tujuannya bukan keberhasilan besar, melainkan salamet. Selamat dalam arti yang luas: tidak celaka, tidak tersesat, tidak pulang dengan hati pecah. Selamat berarti utuh setelah menjalani sesuatu. Bukan menang, bukan unggul—cukup utuh.

Dan di ujungnya, seperti penutup yang menenangkan, hadir kalimat yang mengakhiri semua kemungkinan tafsir: ku kersaning Allah. Di sinilah seluruh usaha simbolik itu dilepaskan. Manusia sudah menata, menyelaraskan, berharap selamat. Selebihnya bukan wilayahnya lagi. Ini bukan pasrah yang malas, tapi pasrah yang sadar batas.

Menariknya, kalimat ini tidak pernah menakut-nakuti. Tidak ada ancaman bala, tidak ada transfer petaka ke pihak lain, tidak ada burung yang harus diusir ke Palembang. Ia bekerja dengan cara yang lebih dewasa: menenangkan, bukan mengintimidasi. Mungkin karena itu, di antara berbagai rapalan yang pernah saya usili, kalimat ini justru bertahan dan ikut tumbuh bersama saya.

Sekarang, ia tidak lagi diucapkan sebagai jimat. Ia berubah menjadi doa. Bukan karena saya semakin religius, tapi karena kalimat ini telah menyelesaikan pekerjaannya sebagai simbol. Ia tidak menuntut kepatuhan, hanya menawarkan orientasi: tertata, selaras, selamat—lalu ikhlas.

Jika suatu hari ada orang mengetik “sarata sarutu” di Google, dan tersesat ke tulisan ini, saya berharap ia tidak menemukan definisi kaku. Cukup menemukan rasa. Bahwa ada kalimat tua yang tidak pernah masuk kamus, tapi diam-diam membantu banyak orang berangkat dari rumah dengan batin yang sedikit lebih rapi.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.

You May Also Like

0 komentar