Lowongan Negara, Daster, dan Kesunyian Setelah Ketawa

by - 12:00 PM


Di grup alumni kampus, seseorang yang kini berseragam kepolisian membagikan informasi lowongan kerja di kementerian. Grup yang biasanya riuh oleh nostalgia dan meme murahan, mendadak terasa berat. Kata “kementerian” memang punya efek samping: membuat orang mendadak tegak, serius, dan sedikit minder.

Kami semua paham. Lowongan kementerian, BUMN, apalagi yang berlabel “nasional”, bukan perkara isi formulir dan kirim CV. Ada cerita lain yang tidak tertulis: orang dalam, uang pelicin, relasi, keberanian menyogok sekian puluh juta. Masalahnya sederhana—kami tidak punya itu semua. Jadi kami memilih jalur yang lebih rasional: hidup sebisanya.

Ada yang jual bakso.
Ada yang ngajar les.
Ada yang kerja serabutan.
Dan saya—tukang daster.

Bukan niat sinis, hanya refleks menurunkan tensi grup yang tiba-tiba terasa seperti ruang sidang. Lowongan? Di kementerian? Dalam hati saya cuma bergumam: utopis. 🤣

Saya buka informasinya. Seperti biasa, syaratnya tampak ramah. Terlalu ramah. Semudah melamar kerja di minimarket. Maka saya nyeletuk, dengan niat bercanda tapi juga jujur:

“Terima kasih informasinya.
Saya cuma khawatir kalau diterima jadi komisioner di Komdigi,
saya nggak bisa bangun siang lagi.
Nggak enak jadi abdi negara.” 🙏🏾🤣

Grup langsung riuh. Ketawa yang tidak selalu tahu kenapa harus tertawa. Ada yang nyeletuk:

“Ini syaratnya bertakwa kepada Tuhan YME. Yang ateis nggak diterima dong?”

Saya menimpali, sambil tetap di mode bercanda serius:

“Nggak ada relevansinya tuh taqwa sama jadi pejabat.
Pejabat kita semua disumpah di bawah kitab suci.
Dan alhamdulillah… semuanya amanah.”

Saya senang jadi WNI. 😍

Mereka tertawa lagi.
Karena itu ironi.
Dan ironi, kalau disentil pelan, memang lucu.

Lalu ada teman yang nyeletuk, entah bercanda atau refleks kelas sosial:

“Lu nggak bisa masuk formasi ini. Lu tukang daster.”

Entah saya tersinggung, entah saya ingin menertawakan dunia lebih jauh. Saya kirim foto saya sedang live jualan, sambil ngetik caption:

“Negara memberi fasilitas,
daster memberi kebebasan,
dan batin memilih yang kedua.”
🤣🤣🤣🤣

Dan…
hening.

Grup yang tadi riuh, mendadak sunyi. Seperti listrik dicabut. Tidak ada yang menimpali. Tidak ada yang tertawa. Sampai akhirnya satu orang berkomentar pelan:

“Gue pengen kayak gitu, tapi nggak pede.”

Lalu hening lagi.

Saya menatap layar, sambil senyum kecil.
Mungkin di situlah letak absurditas hidup dewasa:
kita menertawakan sesuatu bersama-sama,
sampai tiba-tiba ada yang benar-benar bebas,
dan kebebasan itu malah bikin orang diam.

Kami kembali menjalani takdir masing-masing.
Yang formal, yang setengah formal, yang dasteran.
Sama-sama WNI.
Sama-sama lelah.
Bedanya, ada yang bangun pagi karena negara,
ada yang bangun subuh karena live.

Dan tidak apa-apa. 😅

You May Also Like

0 komentar