Dari Dapur ke Agora: Mahala, Mahayu, Mahabu, dan Cara Saya Belajar Menjadi Tenang
Saya tidak tumbuh dari buku parenting.
Saya tumbuh dari suara panci, nada suara yang naik turun, dan kalimat-kalimat yang tidak pernah dimaksudkan untuk dijelaskan. Salah satunya: mahala, mahayu, mahabu.
Waktu kecil, kalimat itu lewat begitu saja—seperti asap dapur. Tidak dikejar maknanya, tidak ditanya definisinya. Baru bertahun-tahun kemudian, setelah saya membaca filsafat dari Yunani, menyusuri istilah pathos, ethos, logos, bertemu thymos dan phronesis, saya justru berhenti dan merasa: loh… ini rasanya sudah pernah saya hidupi.
Mahala datang paling awal dalam hidup saya, jauh sebelum saya tahu kata “emosi”. Mahala itu menyusahkan. Merepotkan. Menguji kesabaran. Anak yang bikin orang tua menarik napas panjang. Dalam bahasa Yunani, mungkin ini wilayah pathos—emosi mentah yang belum diolah. Marah, kesal, jengkel, capek. Tapi di dapur, mahala tidak diatasi dengan teori. Ia dihadapi. Diterima. Disuapi. Tidak disangkal, tidak dipermalukan.
Mungkin dari situ saya belajar satu hal sederhana yang kelak membuat saya “kalem”: emosi tidak harus dimenangkan, cukup dikenali. Saya tahu rasanya ribut, saya tahu rasanya kesal, tapi saya juga tahu itu bukan akhir dunia. Pathos tidak perlu dibungkam, tapi juga tidak perlu ditaati sepenuhnya.
Lalu ada mahayu. Kata yang tidak pernah diumumkan sebagai target, tapi terasa ketika suasana rumah seimbang. Mahayu itu rahayu—selaras. Anak yang tahu kapan bercanda, kapan berhenti. Dalam bahasa Yunani, saya menemukan ethos: watak yang terbentuk bukan dari ceramah, tapi dari kebiasaan. Dan juga phronesis: kebijaksanaan praktis, tahu harus berbuat apa di situasi nyata, bukan di kepala.
Saya melihat mahayu bukan sebagai anak baik yang selalu benar, tapi sebagai manusia yang tahu menempatkan diri. Mungkin itu sebabnya ketika saya dewasa, orang-orang heran melihat pilihan hidup saya. Calon mertua bertanya dengan ragu, keluarga besar ingin diyakinkan: “kamu benar mau dengan anak ini?” Mereka melihat istri saya keras, impulsif. Saya menjawab santai: “saya tahu.” Dan memang saya tahu. Karena saya tidak mencari ketenangan dari orang lain; saya mencari keseimbangan di dalam diri.
Di situlah saya sadar: mahayu bukan berarti hidup tanpa konflik. Mahayu berarti tahu membedakan ego dan harga diri. Ketika ribut di jalan karena mobil polisi, saya bisa tertawa dan berkata: menepi sebentar tidak mengurangi siapa-siapa. Tapi jika kehormatan diinjak, itu lain perkara. Orang Yunani menyebutnya thymos—emosi kehormatan. Orang dapur menyebutnya: tahu diri.
Lalu ada mahabu. Kata yang jarang dibicarakan karena tidak sopan. Kebinatangan. Dorongan liar. Ego yang dibiarkan. Dalam filsafat, ini wilayah yang paling sering ditakuti, lalu ditutup-tutupi. Tapi ibu-ibu dulu menyebutnya terang-terangan. Mahabu bukan kutukan. Ia peringatan. Bahwa kalau emosi tidak dikenali, kalau kehormatan disalahpahami, kalau kebijaksanaan tidak dilatih, manusia bisa tumbuh tanpa rem.
Saya tidak tumbuh menjadi manusia sempurna. Tapi mungkin karena mahala–mahayu–mahabu hadir sejak awal sebagai bahasa hidup, saya belajar berdamai dengan konflik. Saya dan istri bisa ribut tanpa perlu menghancurkan. Anak saya bisa bertanya, “ayah berantem sama ibu?” dan saya bisa menjawab jujur tanpa drama: “iya, tapi nanti selesai sendiri.” Dan dunia tidak runtuh karenanya.
Ketika anak saya bilang ia lebih takut ibu karena nadanya tinggi, tapi tetap sayang dua-duanya, saya tahu: tidak semua luka harus ditutup rapat. Ada konflik yang cukup digeser menjadi jejak, bukan tontonan. Itu bukan teknik parenting. Itu laku hidup.
Baru setelah dewasa, setelah membaca naskah, kitab, blog, dan filsafat dari negeri jauh, saya paham satu hal: tulisan itu penting. Karena yang tersirat sering tergelincir makna. Maka saya menulis. Menulis mahala. Menulis agar tidak putus.
Ilmu, bagi saya, memang seperti binatang buruan. Liar. Bergerak. Tidak bisa sepenuhnya dikandangkan. Kitab, tulisan, naskah—semuanya hanyalah tali pengikat. Bukan untuk memenjarakan, tapi agar jejaknya bisa diikuti orang lain.
Dan mungkin, itulah tugas saya sekarang:
bukan memilih antara dapur Sunda atau agora Yunani,
tapi mengundang keduanya duduk semeja,
minum teh yang sama,
dan membiarkan manusia belajar menjadi manusia—
pelan, utuh, dan tetap menginjak tanah.
0 komentar