Akun Alter, Daster, dan Seni Menginjak Rem Batin

by - 6:00 AM

Saya sering heran sendiri dengan pola jualan live saya.

Kalau dihitung jujur, mungkin cuma 30% ngomongin daster.
Sisanya?
Ngobrol.
Nemenin.
Menjawab hal-hal yang kalau dipikir teknis, sebenarnya sederhana.

Aman nggak buat BB sekian?
Kenapa merk ini awet?
Bagusan Kencana Ungu atau Kuda Mas?
Kok labelnya beda warna, bang?

Kalau mau, saya bisa jawab cepat.
Tapi live saya bukan lomba cepat-cepat laku.
Ia lebih mirip warung kopi sore hari,
di mana orang datang bukan cuma beli, tapi ingin tidak merasa bodoh saat bertanya.

Capeknya bukan di tenggorokan.
Capeknya di batin.

Karena tiap jawaban butuh rem.
Rem bahasa.
Rem nada.
Rem ego.

Sedikit saja tergelincir,
bahasa jadi teknis,
atau lebih parah:
jadi beracun.

Padahal saya tahu,
yang bertanya itu bukan malas,
tapi pernah deg-degan.
Takut salah klik.
Takut uangnya nyasar.
Takut diketawain.

Dan di situlah saya sadar:
jualan ini bukan soal algoritma,
tapi soal mengelola diri sendiri.

Tentang akun alter—
saya melihatnya seperti ruang uap.
Tempat orang melepas tekanan hidup,
kadang dengan pamer,
kadang dengan sinisme,
kadang dengan tawa yang agak kejam.

Saya memilih menertawakannya pelan-pelan.
Bukan karena suci.
Tapi karena lelah marah.

Kalau saya lepaskan racun di live,
yang keracunan bukan akun alter,
tapi pembeli yang datang dengan niat baik.

Maka saya simpan pelepasannya di tulisan.
Di artikel.
Di narasi.

Biar mengendap.
Biar tidak tumpah ke orang yang tidak salah apa-apa.

Ironisnya,
justru karena live saya tidak agresif,
dasternya habis.
Justru karena saya tidak mendesak,
orang percaya.

Mungkin ini bukan strategi.
Mungkin ini cuma efek samping dari satu keputusan sederhana:
berdagang sambil tetap jadi manusia.

Akun alter boleh ribut.
Timeline boleh penuh citra.
Tapi di live kecil itu,
saya memilih satu hal yang paling langka di internet:
kesabaran yang konsisten.

Dan entah kenapa,
itu cukup untuk menghidupi keluarga.

You May Also Like

0 komentar