Saya Mundur Pelan-Pelan: Tentang Feed, Centang Biru, dan Hak untuk Tidak Percaya

by - 12:00 PM

Akhir-akhir ini saya sadar satu hal: saya tidak lagi langsung percaya pada narasi.

Baik itu video maupun teks. Bahkan sebelum isinya saya cerna, tangan saya refleks mencari satu hal dulu: nama akun. Siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan.

Ini bukan karena saya jadi sinis. Lebih tepatnya, saya jadi selektif.

Kalau media arus utama keliru—bahkan menayangkan video hasil generate AI—anehnya saya masih bisa toleran. Bukan karena saya membenarkan kesalahannya, tapi karena ada kanal koreksi. Ada redaksi, ada klarifikasi, ada mekanisme malu dan tanggung jawab. Misinformasi di sana terasa seperti kecelakaan lalu lintas: salah, berbahaya, tapi masih bisa ditelusuri sebab dan akibatnya.

Yang bikin saya mundur justru tipe lain.
Akun gosip atau pendengung—centang biru—narasinya rapi, bahasanya kalem, logikanya seolah masuk akal, lalu ditopang video AI yang “meyakinkan”. Tidak ada teriakan. Tidak ada typo. Semuanya tampak profesional. Dan justru di situ bahayanya.

Ini bukan lagi salah informasi. Ini rekayasa rasa percaya.

Saya tidak marah. Saya tidak merasa perlu membantah. Biasanya saya hanya tersenyum kecil, memberi react tertawa, lalu… mundur. Kalau sudah terlalu sering lewat di feed, saya blok. Bukan karena saya kalah argumen, tapi karena saya menang dalam satu hal yang lebih penting: kesehatan mental.

Algoritma memang bebas menayangkan apa saja. Tapi saya juga bebas memilih apa yang saya biarkan menetap di kepala.

Di titik ini, saya merasa literasi digital tidak lagi soal “mana yang benar dan salah”, tapi soal mana yang layak diberi ruang. Dunia digital terlalu riuh untuk ditanggapi semuanya. Tidak semua narasi pantas dilawan. Sebagian cukup ditinggalkan.

Dan mungkin ini kedewasaan baru:
bukan menjadi orang yang selalu tahu,
tapi menjadi orang yang tahu kapan harus berhenti membaca.

Centang biru hari ini tidak lagi menjamin etika.
Narasi rapi tidak selalu berarti jujur.
Video meyakinkan bisa sepenuhnya palsu.

Maka saya memilih sikap sederhana: pelan-pelan.
Saya cek siapa yang bicara.
Saya dengar sebentar.
Kalau tubuh saya merasa tidak nyaman, saya pamit.

Tidak semua hal perlu dipercaya.
Tidak semua hal perlu disimpan.
Dan tidak semua feed pantas menginap lama di batin.

Mungkin ini bukan trust issue.
Mungkin ini hanya bentuk baru dari kewarasan.

You May Also Like

0 komentar