Utopis Runtuh di Parkiran Sekolah: Ayah, Naskah, dan Realita

by - 6:00 AM

Dulu saya membayangkan rupa dan bentuk kehidupan cendekiawan itu utopis. Tulisannya rapi, jejak marahnya jinak, hidupnya pasti sudah selesai, seperti sunan kalijaga atau syech yang hidup di legenda. Di kepala saya, mereka selalu tenang, bijak, dan tak pernah tersandung kenyataan sehari-hari.

Nyatanya… cendekiawan juga manusia. Mungkin sedang menyiapkan naskah sambil disuruh beli cabe. Atau harus menemani bocah belajar sambil menimbang bahan ajar. Saya pun sama—tulisannya terlihat rapi di atas kertas, tapi kehidupan nyata penuh percikan: motor yang keliru dibawa, hujan yang membuat jemputan terlambat, dan kepala yang selalu sedikit berat menghadapi dunia.

Di parkiran sekolah, saya menunggu anak saya pulang dengan penuh harap. Utopis itu runtuh di sini, di tengah hujan, anak yang menatap penuh pertanyaan, dan saya yang mencoba menjelaskan dunia tanpa membuatnya takut. Saya teringat bagaimana saya mendidik anak pertama saya: hafalan kacau, nilai A-, dan perjalanan panjang antar jemput yang melelahkan. Saya berkata padanya: “Kakak harus fokus, biar nggak percuma datang ke sekolah dan ngaji.” Anak diam. Mungkin ia sedang mencerna, atau sedang menautkan capeknya perjalanan dengan tanggung jawabnya sendiri.

Pendidikan yang saya berikan bukan soal nilai sempurna, bukan soal patuh karena takut, tapi tentang tanggung jawab dan pengalaman. Hasilnya? Anak belajar fokus, menginternalisasi usaha, dan membedakan rasa bangga dari sombong. Saat ia berhasil menghafal ghorib 72 baris, loncat-loncat di kamar, saya ikut loncat-loncat bahagia. Nilai sempurna di imtas bukan tujuan utama—ia hanyalah efek samping dari proses yang aman, hangat, dan penuh relasi.

Saya ingat lagi bahasa ibu saya: mahala, mahayu, mahabu. Kata-kata itu muncul di dapur berjelaga, di antara aroma nasi dan arang, tanpa definisi akademik, tapi tertanam dalam setiap suapan dan teguran lembut. Mahala—ketika anak menyusahkan; mahayu—ketika anak membawa kebaikan; mahabu—ketika unsur kebinatangan merajalela. Semua terjadi tanpa ceramah panjang, tanpa hukuman fisik, tapi dengan konsistensi dan cinta yang nyata. Saya menumbuhkan itu pada anak saya, sambil tetap mempraktikkan filosofi pindah cai pindah tampian—mengikuti budaya tanpa harus menjadi bagiannya sepenuhnya, hormat tanpa kehilangan pijakan.

Dan saat menunggu di parkiran sekolah, tiba-tiba saya tertawa sendiri. Kepala terasa ringan. Ilmu yang saya pelajari terasa seperti binatang buruan yang diikat dengan naskah, sementara kehidupan nyata—motor, hujan, jemputan, hafalan, arang di wajah anak—memberi konteks dan kehangatan. Semua itu bersatu: mahala–mahayu–mahabu, disiplin tanpa kekerasan, pindah cai pindah tampian, dan naskah yang rapi di laptop.

Saya sadar bahwa menjadi cendekiawan atau orang tua bukan tentang utopis yang rapi. Hidup yang sebenarnya ada di parkiran sekolah, di dapur berjelaga, di tangan yang menyuapi, di perjalanan panjang antar jemput, di tawa kecil anak saat berhasil, dan di rasa aman yang kita bangun tanpa harus memaksa.

Di sinilah epifani itu datang: utopis boleh runtuh, tapi kehidupan nyata tetap memberi pelajaran, tawa, dan kebanggaan yang tulus. Dan saya belajar, selama kita bisa menulis jejaknya—apapun bentuknya—kita tidak pernah kehilangan arah.


You May Also Like

0 komentar