Ramadan di Jakarta dan Ketakutan Kolektif Dibuang ke Hutan

by - 9:00 AM

Sebuah Esai Satire tentang Biologi Perilaku Orang Tua Sepuh di Era Video Viral

Pendahuluan: Ketika Ibu Menginginkan “Vibes”

Suatu sore telepon saya berdering. Di ujung sana, ibu saya yang sudah sepuh menyampaikan sebuah keputusan yang terdengar seperti kebijakan geopolitik keluarga:

“Ramadan 2026 ibu mau di Jakarta saja. Mau merasakan vibes lebaran.”

Saya langsung menyadari dua hal penting.
Pertama, kata vibes ternyata sudah menembus generasi orang tua.
Kedua, ada fenomena sosial yang lebih besar di balik permintaan ini.

Teman-teman seangkatan ibu banyak yang sudah lama tinggal bersama anak-anak mereka di kota penyangga seperti Bekasi. Dari sana muncul cerita-cerita yang sangat menggoda: cucu berlarian di ruang tamu, buka puasa ramai-ramai, dan suasana rumah yang penuh manusia seperti terminal kecil menjelang Lebaran.

Bagi orang tua sepuh, cerita seperti itu bukan sekadar nostalgia. Itu adalah magnet biologis.

Dalam bahasa biologi perilaku, manusia adalah makhluk yang dirancang untuk hidup dalam kelompok. Ketika usia menua dan lingkar sosial menyusut, keinginan untuk kembali ke pusat keluarga menjadi semakin kuat.

Singkatnya:
kalau dulu anak yang tidak mau jauh dari ibu, sekarang giliran ibu yang tidak mau jauh dari anak.


Bab I

Naluri Anti-Benalu: Kebanggaan yang Sedikit Kontradiktif

Menariknya, generasi orang tua kita memiliki mekanisme psikologis yang sangat unik.

Mereka bangga melihat anaknya mandiri, tetapi pada saat yang sama selalu mengatakan kalimat klasik:

“Ibu tidak mau merepotkan.”

Ini adalah salah satu bentuk diplomasi paling elegan dalam sejarah keluarga.

Karena jika diteliti lebih jauh, kalimat itu sebenarnya memiliki arti implisit:

“Ibu tidak mau merepotkan… tapi kalau kalian tetap perhatian, ibu tentu tidak akan menolak.”

Dalam perspektif behavioral biology, ini adalah strategi mempertahankan martabat sosial di dalam kelompok. Bahkan pada usia lanjut, manusia tetap ingin dipersepsikan sebagai individu yang tidak menjadi beban.

Namun alam semesta memiliki selera humor yang unik.
Di usia yang sama ketika mereka berkata tidak ingin merepotkan, mereka juga sudah tidak mungkin sepenuhnya mandiri.

Akhirnya keluarga menemukan keseimbangan klasik:

anak pura-pura tidak keberatan,
orang tua pura-pura tidak merepotkan.

Dan peradaban keluarga pun berjalan damai.


Bab II

Teori Evolusi Keluarga: Dari Bayi ke Bayi Lagi

Jika kita memetakan kehidupan manusia secara sederhana, pola yang muncul sebenarnya cukup ironis.

Masa kecil:
manusia tidak bisa apa-apa.

Masa dewasa:
manusia bekerja keras, membangun karier, membayar cicilan, dan sesekali pura-pura mengerti pajak.

Masa tua:
manusia kembali membutuhkan bantuan orang lain untuk banyak hal.

Fenomena ini sering saya sebut sebagai:

Teori “Back to Child”.

Bukan berarti orang tua benar-benar kembali menjadi anak kecil, tetapi beberapa perilakunya mulai menyerupai fase itu:

  • ingin ditemani

  • ingin diajak bicara

  • khawatir berlebihan terhadap kemungkinan buruk

  • dan sesekali butuh diyakinkan bahwa dirinya masih penting.

Secara biologis ini wajar. Ketika usia bertambah, sistem saraf manusia menjadi lebih sensitif terhadap ancaman sosial seperti kesepian dan penolakan.

Itulah sebabnya perhatian kecil dari anak bisa terasa sangat besar bagi orang tua.


Bab III

Pengaruh Ekologis Video Viral terhadap Psikologi Sepuh

Di tengah pembicaraan kami, ibu bercerita tentang sebuah video yang membuatnya cukup gelisah.

Video itu menceritakan seorang anak yang membawa ibunya ke hutan dengan alasan berobat ke tabib sakti.

Sepanjang perjalanan ibu itu bertanya dengan logika sederhana:

“Dokter mana nak yang kamu tuju?”

Anaknya menjawab dengan imajinasi yang cukup kreatif:

“Di balik bukit ada tabib sakti.”

Mereka berhenti di bawah pohon jambu yang kebetulan sangat sinematik. Sang anak berpura-pura ingin mengambil buah untuk anaknya sendiri.

Di titik dramatis itulah sang ibu berkata:

“Apa yang kamu lakukan sekarang sama seperti yang ibu lakukan dulu untukmu. Pulang ngarit, ada mangga bekas codot, ibu bawa pulang untuk kamu.”

Anak itu langsung tersentuh dan batal membuang ibunya.

Kisah selesai.
Air mata mengalir.
Video viral.

Dari sudut pandang antropologi digital, cerita seperti ini sebenarnya memiliki fungsi yang sangat jelas: memicu empati keluarga dalam durasi tiga menit.

Masalahnya, bagi sebagian orang tua sepuh, cerita itu tidak berhenti sebagai hiburan.

Ia berubah menjadi kemungkinan nyata.


Bab IV

Evolusi Konsep “Membuang Ibu”

Saya tersenyum mendengar cerita itu, tetapi kemudian menyadari sesuatu yang menarik.

Hari ini hampir tidak ada anak yang benar-benar membawa ibunya ke hutan.

Logistiknya terlalu rumit.

Namun ada bentuk modern dari tindakan itu yang jauh lebih sederhana:

tidak menanyakan kabar.

Dalam dunia yang penuh pekerjaan, bisnis, dan algoritma notifikasi, orang bisa lupa melakukan hal paling sederhana:

menghubungi orang tua.

Padahal bagi orang tua sepuh, satu telepon singkat bisa memiliki efek seperti obat penenang sistem saraf.

Dalam kerangka biologi perilaku, manusia memang dirancang untuk membaca sinyal sosial kecil: suara, perhatian, kehadiran.

Ketika sinyal itu hilang terlalu lama, otak mulai menciptakan cerita sendiri.

Biasanya cerita itu tidak optimis.


Bab V

Diplomasi Menenangkan Ibu

Maka ketika ibu selesai bercerita tentang video hutan tersebut, saya menjawab dengan pendekatan yang relatif sederhana:

“Iya bu, alhamdulillah semua anak ibu sayang. Kemarin ulang tahun ibu juga kita rayakan. Nanti ibu bisa gantian menginap di rumah anak-anak sambil menemani cucu.”

Kalimat ini memiliki fungsi biologis yang cukup penting: menormalkan posisi ibu dalam sistem keluarga.

Artinya sederhana:

ibu bukan tamu,
ibu adalah bagian dari rumah itu sendiri.

Biasanya setelah mendengar kalimat seperti itu, kecemasan sosial orang tua akan turun beberapa tingkat.


Penutup: Masa Depan yang Mungkin Menunggu Kita

Setelah percakapan itu selesai, saya sempat tertawa kecil.

Karena kemungkinan besar jika umur panjang diberikan, suatu hari nanti kami—para anak yang sekarang merasa rasional—akan berada di posisi yang sama.

Mungkin kami juga akan menonton video aneh di internet.

Mungkin kami juga akan bertanya dalam hati:

“Anak-anak masih ingat saya tidak ya?”

Dan mungkin kami juga akan merasa sangat bahagia hanya karena satu pesan sederhana muncul di layar ponsel:

“Bu, lagi apa hari ini?”

Karena dalam ekosistem sosial manusia, perhatian kecil sering kali memiliki dampak biologis yang jauh lebih besar daripada yang kita kira.


Glosarium Satire

Back to Child Syndrome
Fenomena ketika manusia sepuh mulai menunjukkan kebutuhan emosional seperti anak kecil, terutama dalam bentuk keinginan ditemani dan diperhatikan.

Diplomasi Anti-Benalu
Strategi komunikasi orang tua yang menyatakan tidak ingin merepotkan anak, sambil berharap anak cukup peka untuk tetap peduli.

Viral Moral Ecology
Ekosistem cerita sedih di internet yang dirancang untuk menghasilkan empati, tangisan, dan minimal tiga kali share ke grup keluarga.

Codot Economy
Sistem pengorbanan orang tua di masa lalu yang sering diilustrasikan dengan buah bekas gigitan kelelawar yang tetap dibawa pulang untuk anak.

Modern Forest Disposal
Versi kontemporer dari “membuang orang tua ke hutan”, yang kini dilakukan secara lebih praktis: dengan tidak menghubungi mereka dalam waktu lama.

Lebaran Vibes Migration
Perpindahan sementara orang tua sepuh ke kota anak-anaknya demi merasakan atmosfer keluarga besar menjelang hari raya.



You May Also Like

0 komentar