Epilog: Martabat yang Tidak Lagi Marah Saat Ditertawakan

by - 6:00 AM


Pada akhirnya saya paham,
yang sering terasa menyakitkan itu bukan ejekannya,
tapi ketergantungan kita pada pengakuan.

Di kepala sebagian alumni, usaha saya mungkin tidak prestisius.
Tukang daster.
Tukang bakso lebih parah lagi.
Guru les? Ya ampun, itu kan “sementara”.

Mereka berdiri di menara gading—setidaknya di foto profil.
Meeting.
Coffee shop.
Laptop terbuka, gelas kopi setengah penuh, caption setengah afirmasi diri.

Lucunya, di waktu yang sama, mereka memelihara mimpi utopis:
“Enak ya hidup lu… slow living.”

Seolah hidup pelan itu hadiah.
Padahal sering kali itu pilihan sadar yang mahal,
dibayar dengan keberanian untuk tidak terlihat “naik kelas”.

Belakangan, alter yang sama mulai DM:
“Gimana sih cara jualan daster?”

Saya tertawa ringan.
Bukan meremehkan—justru karena lucu.
Jawaban saya datar saja:

“Sama aja kayak buka warung.
Beli dari agen, ecer.”

Tidak ada rahasia.
Tidak ada mantra.
Tidak ada kelas premium.

Yang ada hanya realitas:
mereka ingin kebebasan, tapi masih takut kehilangan gengsi.

Dan di titik itu saya sadar,
martabat ternyata tidak selalu datang dari profesi,
tapi dari batin yang sudah tidak defensif.

Batin yang tidak lagi panas saat ditertawakan.
Tidak perlu membalas dengan pembuktian.
Tidak perlu naik podium.
Cukup tertawa, lalu lanjut hidup.

Karena mungkin begini:
yang benar-benar bebas bukan yang fotonya paling meyakinkan,
tapi yang tidak lagi perlu menjelaskan pilihan hidupnya.

Saya jualan daster.
Ada yang jual bakso.
Ada yang mengajar les.
Ada yang masih meeting sambil berharap suatu hari bisa berhenti.

Dan semuanya sah.
Selama batinnya tidak saling merendahkan.

Di situlah martabat akhirnya pulang.

You May Also Like

0 komentar