Mahala, Mahayu, Mahabu: Pulang ke Dapur setelah Terlalu Jauh Membahas Parenting
Saya tidak pernah belajar parenting dari buku.
Saya belajar dari posisi duduk: di depan tungku, di pangkuan ibu, dengan wajah kadang belepotan nasi, kadang cemong arang. Di sana tidak ada istilah attachment, regulasi emosi, atau perkembangan kognitif. Yang ada hanya api kecil, sendok, dan kalimat-kalimat yang saat itu terdengar seperti mantra, tapi ternyata bekerja sepanjang hidup.
Saya tidak ingat kapan pertama kali memahami kata mahala, mahayu, mahabu. Saya ingat kapan pertama kali mendengarnya. Ia tidak datang sebagai definisi, melainkan sebagai sisipan di antara suapan. Ibu berkata pelan, nyaris seperti menggumam, “Anak itu titipan. Titipan bisa jadi mahala, bisa jadi mahayu, bisa jadi mahabu.” Tidak ada penjelasan. Tidak ada pengantar. Karena bahasa ini memang tidak dimaksudkan untuk dipahami oleh anak. Ia ditanam, untuk dipanen puluhan tahun kemudian.
Waktu kecil, saya mengira itu sekadar omelan. Baru setelah menjadi orang tua, saya paham: itu adalah kerangka berpikir.
Mahala, dalam bahasa dapur Sunda, bukan pahala surgawi. Ia berarti menyusahkan. Memberatkan. Menguras tenaga dan kesabaran. Anak yang rewel, membantah, lambat belajar, salah terus, jatuh bangun tanpa jeda. Dalam bahasa psikologi modern, semua ini bisa diterjemahkan rapi: fase perkembangan, regulasi emosi belum matang, perilaku menantang. Tapi di dapur, mahala tidak dianalisis. Ia diterima. Anak tetap disuapi. Tidak ada penarikan cinta karena anak “merepotkan”. Dan di situlah saya baru sadar: mahala bukan kegagalan pengasuhan, melainkan ujian daya tahan kasih.
Lalu ada mahayu. Kata yang terdengar indah, dan memang bermakna rahayu: kebaikan, keseimbangan, keindahan hidup. Anak yang membawa tenang, yang pelan-pelan tahu batas, yang tumbuh dengan rasa cukup. Dalam jurnal akademik, ini bisa disebut secure attachment, resiliensi, internalisasi nilai. Dalam bahasa ibu saya, cukup satu kalimat: “Nya kitu atuh, jadi budak hade.” Tidak ada euforia berlebihan. Karena mahayu bukan prestasi. Ia adalah hasil dari laku panjang yang konsisten: disuapi saat lapar, ditegur saat salah, dipeluk tanpa syarat.
Dan ada mahabu. Kata yang hari ini jarang dipakai karena terlalu jujur. Mahabu menunjuk pada sifat kebinatangan: ego liar, tidak mau mengerti, keras kepala yang tidak mau belajar. Psikologi akan melunakkannya dengan istilah impulsivitas atau conduct problem. Ibu saya tidak melunakkan apa pun. Ia hanya berkata, “Eta mah geus mahabu.” Bukan sebagai vonis, tapi sebagai peringatan. Yang menarik: ibu tidak pernah berhenti menyuapi anak yang mahabu. Ia hanya tahu, jika kelak tidak berubah, dunia akan mengajar lebih keras.
Di titik ini saya sadar: mahala–mahayu–mahabu bukan teknik pengasuhan. Ia adalah etik hidup. Ia tidak berusaha mengontrol anak, tetapi menempatkan tanggung jawab secara perlahan. Ibu tidak pernah berkata, “Kalau kamu begini, konsekuensinya ini.” Ibu berkata, “Ibu sudah melakukan semampunya. Selebihnya urusan Allah.” Kalimat itu terdengar pasrah, padahal justru di sanalah pendidikan tanggung jawab dimulai. Anak dilepaskan dari ilusi bahwa hidup selalu bisa ditolong.
Saya teringat satu adegan kecil yang dulu saya anggap sepele. Abang saya pernah mempermainkan saya dengan arang. Wajah saya hitam legam. Saya menangis, melapor, berharap pembelaan. Yang datang justru kalimat yang membuat saya bengong: “Tong sok mahabu ka ade teh. Sok atuh geura mahayu maneh. Mahala wae ka kolot.” Saya tidak paham apa-apa saat itu. Tapi sekarang saya tahu: ibu sedang mengatur konflik tanpa menjatuhkan siapa pun. Abang ditegur tanpa dihina. Saya ditenangkan tanpa dimanjakan. Dan ibu tetap berdiri di tengah, menjaga keseimbangan.
Ironisnya, ibu-ibu seperti itu tidak pernah menulis jurnal. Tidak masuk Google Scholar. Tidak hadir di seminar parenting. Tapi mereka menghasilkan manusia yang bisa hidup: tidak gagap realitas, tahu kapan menunduk dan kapan melawan, paham beda ego dan harga diri. Sementara generasi sekarang membaca ratusan artikel parenting untuk menemukan kembali apa yang dulu sudah ada di dapur.
Mungkin yang kita rindukan sebenarnya bukan masa kecil. Bukan ibu secara fisik. Tapi rasa aman saat disuapi di depan tungku, ketika hidup belum perlu dijelaskan, ketika nilai tidak dipresentasikan, tapi ditanam lewat kebiasaan. Dan mungkin, ketika hari ini kita bicara panjang lebar tentang parenting, antropologi, psikologi, yang sedang kita lakukan hanyalah satu hal sederhana: mencari jalan pulang ke dapur. Ke ibu. Ke bahasa yang tidak pernah butuh definisi, tapi sanggup membesarkan manusia.
0 komentar