Iya. Tapi dari situ, orang bisa makan tanpa bohong
Dulu, waktu bersentuhan dengan pemerintahan, uang “pelicin” itu sering mampir. Bukan dalam amplop yang disodorkan terang-terangan, tapi lewat celah-celah yang katanya “sudah biasa”. Anehnya, tiap kali kebagian, tubuh saya bereaksi lebih cepat dari pikiran. Tersedak. Mual. Seperti ada yang salah tapi tak bisa dijelaskan. Badan saya menolak uang subhat seperti perut menolak makanan basi.
Saya sempat berpikir ini cuma sugesti. Tapi setiap kali uang itu dipakai—entah buat makan, berobat, atau sekadar bertahan—rasanya tidak pernah beres. Sakit datang tanpa sebab jelas. Lalu lucunya, sembuhnya justru pakai uang saweran: dari kerja remeh, dari dagang kecil, dari keringat yang tidak pintar berkelit. Badan saya sepertinya dibentuk dari lalapan, dari nasi sederhana, dari filsafat kambing: makan apa yang ada, asal halal, asal hidup jalan.
Sekarang hidup saya jauh dari kata prestisius. Tapi anehnya, tubuh saya lebih jinak. Kalau sakit, paling dikerik, minum paracetamol 500 mg, tidur sebentar. Besoknya bangun lagi. Gas tempur. Dagang lagi. Tidak ada drama ideologis. Tidak ada negosiasi nurani. Tidak ada uang yang harus dijelaskan ke diri sendiri.
Saya jadi percaya, mungkin bukan saya yang hebat.
Mungkin tubuh saya saja yang cerewet.
Ia tahu mana yang bohong, mana yang jujur.
Dan ia memilih yang membuat napas panjang.
Dagangan boleh remeh.
Hidup boleh biasa.
Tapi makan tanpa bohong—
itu nikmat yang tidak semua orang sanggup bayar.
0 komentar