Dari Modal Simbolik ke Perlawanan Sehari-hari: Membaca Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dalam Kerangka Antropologi Sosial
Pierre Bourdieu membantu kita memahami bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui paksaan, tetapi melalui apa yang ia sebut modal simbolik: kehormatan, gelar, nasab, dan pengakuan sosial yang diterima sebagai “alami”. Modal ini bekerja efektif karena ia tertanam dalam habitus—cara berpikir, merasa, dan bertindak yang dibentuk sejak lama oleh lingkungan sosial. Ketika masyarakat menerima bahwa seseorang “layak dihormati” karena asal-usulnya, maka penghormatan itu tidak lagi dipertanyakan, melainkan dijalankan sebagai refleks sosial.
Dalam kerangka ini, nasab bukan sekadar silsilah biologis, melainkan instrumen legitimasi. Ia memberi otoritas tanpa harus melalui praktik etis yang terus-menerus diuji. Di sinilah simbol menjadi kuat sekaligus rapuh: kuat karena diakui bersama, rapuh karena bergantung pada keyakinan kolektif yang bisa retak ketika pengalaman sehari-hari tidak lagi selaras dengannya.
James C. Scott membawa kita ke lapisan lain. Ia menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu melawan kekuasaan secara terbuka. Ada bentuk everyday resistance—perlawanan halus, diam, nyaris tak terlihat—yang justru lebih lestari. Menolak menunduk, memilih tidak ikut ritual tertentu, menjaga jarak simbolik sambil tetap hadir sebagai manusia biasa: semua ini bukan revolusi, tetapi strategi bertahan. Ia bukan ideologi besar, melainkan etika keseharian.
Dalam konteks ini, seseorang yang tetap menyapa, bekerja, berdagang, dan berinteraksi setara, namun menolak hierarki simbolik, sedang melakukan apa yang Scott sebut sebagai negosiasi diam-diam terhadap struktur kuasa. Ia tidak menggugat nasab secara frontal, tidak membakar simbol, tetapi juga tidak menyerahkan batinnya. Perlawanan ini sering tidak diakui sebagai “perjuangan”, padahal justru di situlah banyak masyarakat bertahan tanpa runtuh.
Ketika kita kembali ke antropologi Indonesia, Clifford Geertz mengajarkan bahwa kebudayaan adalah webs of significance—jaringan makna yang ditenun manusia sendiri. Makna tidak hidup di teks besar atau pidato, tetapi dalam praktik: cara orang duduk, menyapa, berbagi makanan, atau bekerja bersama. Dalam masyarakat seperti ini, kehormatan sejati sering kali lahir bukan dari klaim, tetapi dari keterlibatan.
Koentjaraningrat melengkapinya dengan penekanan pada nilai-nilai lokal yang bersifat fungsional, bukan abstrak. Konsep seperti gotong royong, rukun, dan tata krama tidak berdiri sebagai teori, tetapi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan. Di sinilah silih asah, silih asih, silih asuh menemukan tempatnya: bukan sebagai slogan moral, melainkan sebagai teknologi sosial yang memungkinkan hidup bersama tanpa saling melumat.
Silih asah bekerja pada ranah pengetahuan: belajar bersama tanpa mendominasi. Silih asih bekerja pada ranah afeksi: mengakui kemanusiaan tanpa syarat simbolik. Silih asuh bekerja pada ranah tanggung jawab: merawat yang lemah tanpa menjadikannya alat legitimasi. Ketiganya tidak membutuhkan panggung, gelar, atau nasab. Ia hanya membutuhkan kehadiran.
Jika dibaca melalui Bourdieu, silih asah–asih–asuh adalah praktik yang menolak akumulasi modal simbolik berlebihan. Jika dibaca melalui Scott, ia adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap hierarki yang memaksa. Jika dibaca melalui Geertz dan Koentjaraningrat, ia adalah ekspresi kebudayaan yang hidup di lantai, bukan di podium.
Maka benar bahwa ilmu hanya masuk kepada mereka yang memposisikan dirinya kosong. Kekosongan di sini bukan ketidaktahuan, melainkan pelepasan klaim. Dalam ruang kosong itu, simbol bisa diperiksa tanpa dimusuhi, kuasa bisa dipahami tanpa disembah, dan nilai lokal bisa berdiri sejajar dengan teori besar dunia.
Di titik ini, seseorang tidak perlu menjadi antropolog untuk berpikir antropologis. Cukup hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri, menyadari struktur yang bekerja di sekitarnya, dan memilih laku yang tidak merusak batin. Itu sudah lebih dari cukup sebagai ilmu yang hidup.
0 komentar