Tertawa di Cermin Retak: Mengapa Kita Gemar Menghina Keanehan Orang Lain yang Mirip Kita
Ada satu olahraga ringan yang tidak butuh pemanasan, tidak butuh sepatu, dan bisa dilakukan sambil rebahan:
menertawakan budaya orang lain di internet.
Favorit belakangan ini: netizen India.
Mulai dari video festival yang berisik, kuliner yang “kok gitu sih”, ritual yang tampak absurd, sampai anak mudanya yang hobi salto dengan backsound kambing. Kita tertawa puas. Komentar mengalir. Kreativitas meme mencapai puncaknya. Bangsa ini memang kuat kalau soal bercanda.
Masalahnya, tawa itu sering berhenti sebelum sampai ke cermin.
Karena kalau video itu diputar tanpa teks, tanpa konteks, dan tanpa bendera negara, lalu diganti judulnya jadi “Acara Tujuh Belasan di Desa X”, kita mungkin masih tertawa—tapi sambil bilang:
“Wah, rame ya. Kreatif juga.”
Di situlah ironi kecil itu mulai kelihatan.
Saya bukan antropolog. Saya pedagang daster.
Tapi berdagang itu bikin orang terbiasa mengamati manusia.
Dan dari pengamatan receh itu, satu pola terasa jelas:
kita menertawakan orang lain bukan karena mereka aneh, tapi karena kita butuh jarak dari keanehan kita sendiri.
India dan Indonesia sering dibilang punya akar budaya yang mirip. Bahasa Sanskerta, epos Mahabharata–Ramayana, simbol Garuda, ritual kolektif, masyarakat komunal, sampai drama kehidupan yang kalau dijadikan sinetron… ya India banget. Atau Indonesia banget. Susah dibedakan.
Uangnya mirip.
Korupsinya mirip.
Keyakinannya penuh simbol.
Ritualnya rame.
Logikanya kadang lompat.
Singkatnya: kita saudara dalam keanehan.
Dan seperti saudara dekat pada umumnya, kita paling jago saling mengejek.
Humor internet hari ini sering terasa lebih kejam bukan karena orang makin jahat, tapi karena humor makin kehilangan jeda refleksi.
Dulu orang menertawakan sambil sadar: “ini lucu karena aku juga begitu.”
Sekarang: “ini lucu karena bukan aku.”
Padahal, kalau mau jujur, banyak hal yang kita hina di India punya versi lokalnya di sini.
Mereka punya ritual lempar kotoran sapi.
Kita punya rebutan gunungan hasil bumi sambil dorong-dorongan.
Mereka punya festival musik berisik.
Kita punya sound horeg yang bikin genteng tetangga ikutan ibadah.
Mereka punya kuliner yang tampak jorok di video pendek.
Kita juga—cuma kameranya belum datang.
Bedanya cuma satu: ini budaya kita, jadi kita sebut “kearifan lokal.”
Kalau budaya mereka, kita sebut “konten lucu.”
Yang menarik, beberapa netizen India atau keturunan India di Indonesia membalas dengan santai.
Bukan marah. Bukan ceramah. Tapi membandingkan sambil tertawa:
“Lho, kita sama kok.”
Dan di situ justru terasa hangat.
Karena humor yang sehat itu bukan yang menginjak, tapi yang menyamakan tinggi badan dulu.
Bukan: “gue normal, lo aneh.”
Tapi: “kita sama-sama aneh, dan itu oke.”
Mungkin masalahnya bukan pada India, bukan pada Indonesia, tapi pada cara kita menggunakan humor sebagai pelarian dari rasa malu kolektif.
Lebih mudah tertawa ke luar daripada menertawakan diri sendiri.
Padahal, kemampuan menertawakan diri sendiri itu tanda peradaban yang cukup tenang dengan identitasnya.
Kalau kita benar-benar nyaman jadi Indonesia, kita bisa bilang:
“Iya, kita juga ribet.”
“Iya, budaya kita juga absurd.”
“Iya, kita juga sering nggak masuk akal.”
Dan justru di situ humornya jadi manusiawi, bukan kejam.
Jadi mungkin pertanyaannya bukan:
“Kenapa netizen India begini?”
Tapi:
“Kenapa kita butuh mereka jadi bahan tertawaan?”
Kalau jawabannya jujur, mungkin kita tidak berhenti tertawa—
tapi kita mulai tertawa bersama, bukan di atas.
Dan itu, dalam dunia internet yang gampang panas, sudah termasuk kemajuan budaya kecil.
0 komentar