Belajar Menjadi Manusia dari Bu Kek Siansu
Catatan tentang cersil, hidup, dan upaya membumi
Saya tidak tumbuh dengan cita-cita ingin menjadi pahlawan.
Yang saya ingat justru rasa ingin menjadi manusia—kata yang terdengar sederhana, tapi lama sekali saya pahami artinya. Aneh memang, titik berangkatnya bukan buku filsafat atau ceramah motivasi, melainkan cerita silat karya Kho Ping Hoo: Bu Kek Siansu, Manusia Setengah Dewa.
Dalam dunia persilatan, Bu Kek Siansu adalah figur yang hampir tak tersentuh. Ilmunya tinggi, kesaktiannya diakui, dan hampir semua tokoh—baik yang lurus maupun yang bengkok—menaruh hormat kepadanya. Namun menariknya, penghormatan itu bukan semata karena ia hebat. Banyak pendekar hebat lain di jagat cersil. Yang membedakan Bu Kek Siansu adalah cara ia memandang manusia.
Ia tidak membagi dunia menjadi hitam dan putih. Dalam satu kalimat yang membekas di kepala saya hingga hari ini, ia menyiratkan bahwa tidak ada manusia jahat atau baik; yang ada hanyalah manusia yang bingung. Dari sanalah saya pelan-pelan belajar: bahwa hidup bukan soal menghakimi, melainkan memahami.
Bu Kek Siansu bisa menurunkan ilmu kepada siapa saja—baik tokoh yang dikenal berbudi luhur, maupun mereka yang dicap jahat oleh dunia persilatan. Di hadapannya, semua sama-sama manusia. Ilmu tidak diberikan sebagai hadiah atau legitimasi, melainkan sebagai tanggung jawab. Seolah ia berkata: kalau kau sudah tahu, kau tak bisa lagi pura-pura tidak paham.
Ajaran itu meresap perlahan dalam hidup saya. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai cara memandang dunia.
Dalam mendidik anak, misalnya, saya belajar untuk tidak buru-buru memberi label. Marah bukan berarti buruk; sering kali hanya tanda lelah atau bingung. Anak bertanya bukan karena cerewet, tapi karena sedang mencoba memahami hidup. Saya mungkin lupa banyak momen kecil, tapi saya percaya: anak tidak akan tumbuh bingung jika ia pernah merasa didengarkan.
Dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, saya belajar untuk tidak silau jabatan. Bu Kek Siansu tidak mengejar kedudukan, tidak pula menghindari dunia. Ia hadir seperlunya, lalu pergi tanpa jejak. Dari situ saya paham: nilai seseorang tidak bertambah karena titel, dan tidak berkurang karena hidup di lapisan bawah. Semua orang sedang membawa bebannya masing-masing.
Saya juga belajar untuk tidak membenci kehidupan yang sederhana. Tidak semua hal harus heroik. Tidak semua konflik perlu dimenangkan. Ada jalan hidup yang tenang, stabil, dan perlahan—yang justru paling sulit dijalani karena menuntut konsistensi dan ritme, bukan ledakan semangat sesaat.
Banyak orang ingin hidup pelan, seimbang, dan stabil. Banyak pula yang memuji pilihan itu. Namun menjalaninya hari demi hari, tanpa sorak sorai, tanpa pengakuan, tanpa drama—itu perkara lain. Barangkali di titik inilah Bu Kek Siansu menjadi sosok yang paling ingin ditiru, sekaligus paling sulit dijalani. Ia tidak hidup untuk dikagumi, tapi karena ia sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Artikel ini bukan glorifikasi. Saya tidak merasa telah sampai. Saya hanya sedang belajar membumikan hidup—mengambil hikmah dari cerita silat yang oleh sebagian orang dianggap remeh. Padahal bagi saya, cersil justru menyimpan kebijaksanaan yang sunyi: tentang kekuatan tanpa kesombongan, tentang welas asih tanpa naivete, tentang hidup tanpa perlu menjadi siapa-siapa.
Cersil, ya cersil.
Remeh, kata orang.
Tapi bagi saya, benar-benar keren.
0 komentar