Kerja, Martabat, dan Keberanian Hidup Tanpa Panggung

by - 12:00 PM


(catatan dari obrolan receh dengan teman perlente)

Ia menyebut dirinya unemployed.
Nada suaranya datar, sedikit letih, tapi tidak terdengar putus asa. Saya justru tertawa.

“Apanya yang susah sih nyari kerja buat lu?”
Relasinya luas, pembawaannya luwes, LinkedIn-nya kinclong. Kalau dia bilang nganggur, buat saya itu malah terdengar keren. Mimpi utopis warga kota: diam di rumah, duit cukup.

Ia ikut tertawa, tapi buru-buru meluruskan.
“Bukan itu maksud gue.”

Oh. Di situ saya paham.
Ini bukan soal ada atau tidaknya kerja. Ini soal cerita tentang diri.

Ia sedang mencari pekerjaan, katanya, tapi belum ada yang cocok.
Lalu muncul kalimat kunci:
“Gaji gue harus sepuluh juta.”

Sepuluh juta itu bukan angka.
Ia adalah penanda martabat.

Di kepala banyak orang kota, angka tertentu bukan lagi soal makan, tapi soal posisi: siapa kita di mata orang lain, dan—yang lebih penting—di mata diri sendiri. Dengan menyebut angka itu, ia sedang menjaga satu hal: aku belum jatuh.

Saya iseng menimpali,
“Bukannya dulu lu pernah dagang juga?”

Jawabannya cepat dan pendek:
“Susah.”

Susah di sini bukan berarti tidak mungkin.
Susah artinya tidak sesuai citra.

Dagang, jualan, live, kerja cair—semua itu dunia yang tidak heroik. Tidak ada kartu nama mentereng, tidak ada jabatan yang bisa diceritakan dengan bangga di reuni. Dunia tanpa panggung.

Saya bilang ke dia, setengah bercanda tapi sungguh-sungguh,
“Masuk aja dulu ke dunia yang nggak heroik kayak gue.”

Saya ceritakan hidup saya yang tiap hari live. Cukup. Jalan.
Tidak megah, tapi stabil. Bahkan kalau mau jujur—berlimpah.

Ia terdiam sebentar. Lalu bilang, dulu pernah coba, dan memang berat.
Saya tidak menyangkal. Dagang memang berat. Kerja cair memang melelahkan. Tapi saya tambahkan pelan,
“Ya sambil nunggu yang cocok juga nggak apa-apa. Ngisi waktu. Siapa tahu malah lebih jalan.”

Ia mengangguk, tapi saya tahu: percakapan itu tidak benar-benar masuk.

Karena yang sedang ia hadapi bukan soal opsi ekonomi, tapi perang kecil di dalam diri—antara ego dan harga diri.

Ego ingin tetap berdiri di panggung: dipilih, dicari, diakui.
Harga diri takut turun kelas: takut kehilangan identitas lama, takut dianggap gagal.

Lucunya, dua-duanya sering menyamar sebagai “prinsip”.

Padahal hidup tidak selalu memberi kita pekerjaan yang cocok.
Kadang hidup hanya bertanya: kamu mau bertahan dengan cara apa?

Di titik ini saya sadar, tawa saya di awal bukan meremehkan.
Itu tawa orang yang sudah melewati fase itu—fase ketika bekerja di balik layar terasa seperti kekalahan, padahal justru di sanalah banyak orang belajar bernapas lagi.

Hidup tanpa panggung bukan hidup tanpa nilai.
Ia hanya hidup tanpa tepuk tangan.

Dan tidak semua orang siap untuk itu.

Sebagian memilih menunggu peran besar, meski harus duduk lama di bangku cadangan.
Sebagian lain turun ke lapangan, meski bajunya kotor dan tidak ada yang memanggil namanya.

Saya tidak menghakimi teman saya.
Saya tahu betul rasanya menjaga martabat di kota yang menjadikan kerja sebagai identitas. Kota yang bertanya, “kerja di mana?” bukan untuk tahu kabar, tapi untuk memetakan nilai.

Obrolan kami berakhir biasa saja. Ia masih mencari yang cocok.
Saya pulang dengan senyum kecil.

Bukan karena merasa menang.
Tapi karena sadar: keberanian terbesar hari ini bukan selalu mengejar panggung, melainkan bersedia hidup utuh meski tanpa sorot lampu.

Dan itu, sering kali, dimulai dari pekerjaan yang tidak pernah masuk cerita heroik siapa pun—kecuali kita sendiri.

You May Also Like

0 komentar