Manual Bertahan Hidup Keluarga Kami: Dari Bau Oli, Rumput Sapi, sampai Daster yang Tidak Masuk Formasi

by - 6:00 PM


Kami ini keluarga yang kalau dilihat sekilas, mungkin cocok dijadikan studi kasus:
“Bagaimana cara bertahan hidup tanpa satu pun masuk kementerian.”

Tidak ada yang viral. Tidak ada yang heroik. Tidak ada yang bisa dipamerkan di LinkedIn kecuali mungkin caption: “survivor sejak lahir.”

Abang ke-2 saya adalah legenda keluarga. Bukan karena ia kaya raya, tapi karena ia memilih jalan yang paling tidak Instagramable. Buruh las di pamannya, tidur di tumpukan diesel, bau oli permanen, dan suatu hari berkata kalimat yang sejak itu jadi semacam ayat keluarga:
“Ngga usah dibayar, Mang. Bantu bukain bengkel aja.”

Itu bukan motivasi seminar. Itu keputusan hidup.
Artinya sederhana: jangan kasih saya ikan, kasih saya alat pancing—dan biarkan saya tenggelam sendiri kalau salah lempar.

Bengkelnya jalan. Anaknya lulus kuliah. Hidupnya stabil. Tapi yang paling penting: ia tidak pernah merasa paling benar. Ia membuka pintu, bukan memaksa orang masuk.

Abang ke-4 dan ke-5? Lebih nyaman jadi karyawan. Sudah lama. Aman. Tidak muluk. Tidak sok mandiri. Abang ke-4 bahkan sudah merencanakan hidup versi pensiun dini: buka warung di kampung, slow living, bangun pagi tanpa boss. Abang ke-5 membeli sawah dan empang. Mimpi hidupnya sederhana: ongkang-ongkang kaki, kasih makan ikan, dan tidak dikejar siapa-siapa.

Sah. Tidak ada yang salah.

Abang ke-6? Ini favorit saya. Jualan balon 15 ribuan, sempat dikatain goblok oleh saudara sendiri. Sekarang? Rumah ada. Anak keurus. Hidup jalan. Lalu beralih jadi petani sapi. Ngarit. Bau rumput. Bagi hasil. Ketawa sering.

Saya? Tukang daster.
Yang dulu kalau dengar loker kementerian cuma bisa nyeletuk:
“Terima kasih informasinya. Saya khawatir kalau diterima, saya nggak bisa bangun siang lagi.”

Dan entah kenapa, semua ketawa.
Karena semua tahu itu ironi.

Kami ini aneh.
Yang kerja keras sampai lupa jadi manusia, diam-diam ingin hidup pelan.
Yang hidup pelan, justru terlihat paling waras.

Kalau dilihat sekilas, kombinasi kami ini seperti kumpulan pecundang:
tukang las bau oli, tukang balon, tukang daster, tukang ngarit.
Tapi anehnya: rumah ada, kendaraan ada, tawa sering muncul.

Dan saya mulai curiga:
mungkin definisi sukses selama ini memang salah alamat.

Tidak semua orang harus jadi abang ke-2.
Tidak semua kuat tidur di atas tumpukan diesel.
Dan abang ke-2 pun, kalau jujur, mungkin sesekali ingin duduk di pinggir empang, nonton ikan makan pelet, sambil mikir:
“Enak juga ya hidup nggak dikejar target.”

Pada akhirnya, kami semua sedang melakukan hal yang sama, dengan versi masing-masing:
bertahan hidup tanpa kehilangan diri sendiri.

Tidak prestisius.
Tidak utopis.
Tapi cukup.

Dan di keluarga kami, itu sudah lebih dari cukup. 😄

You May Also Like

0 komentar