Meeting di Coffee Shop, Bakso Sudah Buka, dan Pocong Go Padel
Mungkin memang ada jarak.
Bukan jarak ideologi, bukan jarak iman, tapi jarak takdir profesi.
Di linimasa, saya melihat status teman-teman yang sedang meeting di coffee shop. Meja kayu, laptop terbuka, kopi dengan latte art yang niat. Caption-nya serius tapi santai: “Another productive meeting.”
Di waktu yang hampir sama, ada status lain dari teman lama:
“Bakso sudah buka, silakan.”
Dan status saya?
Biasanya begini:
“Ah kenapa ada akun pocong go padel?” 🤣🤣
Saya tidak merasa rendah, juga tidak sedang meninggi. Saya cuma berdiri di tengah absurditas itu sambil mengamati: betapa hidup bisa sama-sama berat, tapi bentuk lelahnya beda.
Ada yang lelah rapat.
Ada yang lelah ngaduk kuah.
Ada yang lelah menghadapi akun alter bernama Drakula Sariawan di live daster. 😅
Kalau ada yang nyeletuk soal profesi, saya jawab enteng saja:
“Batin memilih daster.”
Di pemerintahan, kata orang, kenyang fasilitas.
Di live daster, saya kenyang juga—
kenyang mental, kenyang tawa, kenyang diuji kesabaran oleh akun alter yang entah siapa di baliknya.
Dan saya mulai curiga:
media sosial itu sendiri adalah alter kolektif.
Semua orang punya versi diri yang lebih rapi, lebih produktif, lebih “berhasil” dari kenyataan. Meeting di coffee shop mungkin cuma sejam, tapi statusnya seharian. Bakso buka dari pagi sampai malam, tapi jarang masuk linimasa “sukses”.
Saya melihat jarak itu, tapi tidak ingin memendekkannya dengan iri, atau memperlebarnya dengan sinisme. Saya memilih berdiri di titik saya sendiri—titik yang mungkin terlihat remeh, tapi cukup jujur.
Ada orang kenyang oleh jabatan.
Ada yang kenyang oleh penghasilan harian.
Ada juga yang kenyang oleh kebebasan, walau harus berurusan dengan pocong yang tiba-tiba belajar padel.
Dan saya?
Saya baik-baik saja.
Karena pada akhirnya, hidup bukan lomba caption.
Ia cuma perjalanan pulang,
masing-masing dengan ritme,
masing-masing dengan lelah,
dan masing-masing dengan caranya sendiri untuk tetap waras. 😅
0 komentar