Titip Baju Bayi dan Etika Menumpang Langit

by - 12:00 AM

Catatan Antropologis tentang Pindah Cai Pindah Tampian di Zaman Bergerak

Saya selalu percaya, manusia tidak pernah benar-benar pindah tempat.
Yang berpindah hanyalah tubuh.
Sementara makna, kebiasaan, dan rasa hormat—itu harus dinegosiasikan.

Menjelang kelahiran anak pertama, saya berada di kota ibu mertua. Di sanalah saya pertama kali berhadapan langsung dengan satu praktik yang, jika dibaca dengan logika modern, tampak ganjil: baju dan keperluan bayi tidak boleh ditaruh di rumah. Harus dititipkan ke tetangga.

Tidak ada penjelasan sebab-akibat. Tidak ada narasi rasional. Tidak ada definisi ilmiah.
Hanya satu kata yang berdiri seperti pagar: pamali.

Istri saya mempertanyakan. Wajar.
Saya tidak.

Bukan karena saya lebih tahu. Justru karena saya sadar: ini bukan ruang untuk menjadi pintar. Ini ruang untuk menjadi hormat. Fokus saya satu—kelahiran anak. Yang lain, termasuk ego rasional saya, bisa menepi sebentar.

Kami titipkan baju bayi ke tetangga. Dekat saja. Dan saya melakukannya dengan khidmat, bukan sambil mencibir. Dalam hati saya bahkan berpikir: mungkin ini bukan soal baju. Mungkin ini cara desa berkata pelan-pelan, “Kami ikut menunggu. Jangan sendirian.”

Budaya sering bekerja seperti itu. Ia jarang menjelaskan dirinya sendiri. Ia tidak lahir untuk dipahami oleh individu, tapi untuk dirasakan bersama. Ia adalah mekanisme sosial yang disederhanakan agar semua orang—bahkan yang tidak sekolah tinggi—bisa ikut menjaga keseimbangan.

Beberapa tahun kemudian, anak kedua akan lahir. Kali ini di kota tempat kami tinggal. Tidak ada desa. Tidak ada tetangga yang saling buka pintu. Kami menaruh baju bayi di rumah. Tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang “kena”.

Dan di situ saya belajar sesuatu yang sangat penting: budaya tidak menuntut kepatuhan buta, tapi kecakapan membaca konteks.

Pepatah Sunda itu kembali mengetuk pelan di kepala saya: pindah cai pindah tampian. Airnya sama-sama basah, tapi cara menimba harus menyesuaikan tempat. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung—bukan berarti kita berubah identitas, tapi kita tahu diri: sedang menumpang langit siapa.

Saya orang Sunda. Tapi saya hidup di banyak langit.

Saya duduk di syukuran ala Jawa. Rapalannya masih jampi-jampi. Alhamdulillah diucapkan dengan lidah yang belum sepenuhnya jinak: alkamdulah. Saya duduk hening. Tidak tertawa. Tidak membatin sinis. Karena yang saya hadiri bukan kelas tajwid, tapi upaya manusia lanjut usia untuk menyelaraskan diri dengan Yang Maha Kuasa menggunakan bahasa yang ia miliki.

Di situ saya paham: iman dan budaya sering kali bertemu bukan di kesempurnaan lafaz, tapi di kesungguhan sikap.

Antropologi, bagi saya, bukan ilmu mengamati dari kejauhan. Ia adalah seni tidak buru-buru merasa lebih benar. Ia mengajarkan bahwa tidak semua praktik perlu diuji sekarang, tidak semua pamali harus dibongkar hari itu juga. Ada momen ketika tugas kita bukan memahami, tapi menjaga agar peristiwa hidup berjalan tanpa retak relasi.

Saya bisa saja berdebat soal titip baju bayi. Saya bisa saja menjelaskan bahwa itu tidak ada korelasi dengan keselamatan persalinan. Tapi untuk apa? Untuk membuktikan saya rasional? Sementara yang sedang kita hadapi adalah kelahiran—peristiwa rapuh yang butuh tenang, bukan kemenangan argumen.

Maka saya memilih jalur yang mungkin jarang diajarkan: mengikuti tanpa harus menjadi bagian sepenuhnya. Saya ikut budaya, tapi tidak menelannya sebagai dogma. Saya menghormati, tapi tidak kehilangan jarak reflektif. Saya hadir, tanpa merasa harus menguasai.

Dan justru di situlah saya merasa paling manusia.

Budaya tidak selalu butuh pembela. Kadang ia hanya butuh orang yang cukup rendah hati untuk tidak menertawakannya, dan cukup dewasa untuk tahu kapan ia relevan, kapan ia boleh dilepas.

Titip baju bayi, bagi saya, bukan soal mistik. Ia jejak cara manusia menjaga sesamanya sebelum ada grup WhatsApp, sebelum ada bidan 24 jam, sebelum ada CCTV sosial. Ia cara lama untuk mengatakan: “Kami awas. Kami ikut berjaga.”

Dan mungkin, di zaman serba bergerak ini, yang kita butuhkan bukan budaya yang seragam, tapi manusia yang mampu berpindah tempat tanpa merusak langit yang ia tumpangi.

Karena pada akhirnya, kita semua hanya sedang menumpang—
pada bumi, pada budaya, pada satu sama lain.

You May Also Like

0 komentar