Riung Mungpulung: Pergi Jauh agar Tahu Cara Rindu

by - 6:00 AM

Ada satu kearifan yang baru terasa masuk akal justru setelah kaki melangkah jauh dari rumah: terkadang kita harus pergi, bukan untuk meninggalkan, tapi untuk tahu apa arti rindu. Orang Sunda menyebutnya riung mungpulung—berkumpul kembali. Bukan sekadar pulang fisik, tapi pulang dengan kesadaran baru, dengan hati yang sudah mengalami putaran.

Saya justru menemukan makna itu bukan dari kitab tebal, tapi dari film animasi: Shrek 3. Film yang dulu saya anggap ringan, bahkan receh. Tentang ogre hijau yang tidak betah hidup teratur, lalu pergi merantau, dan diam-diam kangen istrinya sendiri.

Dulu saya menyederhanakan ceritanya begitu saja. Shrek, si ogre rawa, dipaksa masuk dunia kerajaan Far Far Away. Dunia yang rapi, penuh tata krama, penuh ekspektasi. Raja Harold meninggal, takhta kosong, dan Shrek—yang seumur hidup ingin ditinggal sendiri—malah didorong jadi raja. Apa reaksi Shrek? Kabur. Pergi jauh. Mencari pewaris lain. Dalam versi saya dulu: ogre tidak betah, lalu kangen Fiona.

Belakangan, setelah hidup sendiri cukup lama, tafsir itu runtuh pelan-pelan.

Shrek sebenarnya bukan lari dari tanggung jawab. Ia sedang mencari definisi rumah. Ia pergi bukan karena benci kerajaan, tapi karena ia tahu: kalau ia memimpin dengan hati yang belum selesai, semua akan rusak. Maka ia mencari Artie—remaja canggung, tidak populer, belum siap—karena kadang pewaris sejati bukan yang paling gagah, tapi yang paling mungkin belajar.

Sementara itu, di rumah, kekacauan terjadi. Pangeran Tampan—simbol ambisi kosong—mengumpulkan para penjahat dongeng. Mereka marah, merasa tersisih, ingin pengakuan instan. Kerajaan hampir runtuh bukan karena kurang aturan, tapi karena terlalu banyak luka yang tidak diajak bicara.

Yang menarik, yang bertahan justru bukan Shrek. Tapi Fiona. Ratu Lillian. Para putri dongeng. Mereka bertahan dengan kerja sama, bukan dengan mahkota. Rumah tidak runtuh karena rajanya pergi, tapi karena nilai-nilai di dalamnya masih hidup.

Dan di klimaks cerita, Artie—yang awalnya tampak tidak layak—justru menyelesaikan konflik bukan dengan pedang, tapi dengan kata-kata. Ia berbicara pada para penjahat, mengakui luka mereka, dan menawarkan kemungkinan lain. Kerajaan selamat bukan karena kekuatan, tapi karena seseorang berani berkata: “Kalian tidak harus jadi ini.”

Di titik itu, Shrek tidak jadi raja. Ia pulang ke rawa. Ke tempat yang dulu ia anggap sempit, bau, tidak beradab. Tapi kini ia pulang sebagai orang yang tahu: rumah bukan soal status, tapi soal siapa yang menunggu.

Saya tiba-tiba sadar, kenangan saya tentang rumah lawas bekerja dengan cara yang sama. Yang saya rindukan sering bukan bangunannya. Rumah itu sudah berubah. Catnya beda. Ruangnya bergeser. Orang-orangnya menua. Suasananya tidak lagi sama.

Yang saya rindukan adalah rasa pulang yang dulu belum saya pahami.

Dulu, rumah hanyalah latar. Tempat singgah. Baru setelah pergi jauh, setelah hidup di banyak ruang yang terasa “cukup” tapi tidak hangat, saya mengerti: rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu menjelaskan diri terus-menerus.

Riung mungpulung bukan berarti kembali ke bentuk lama. Tapi berkumpul kembali dengan versi diri yang baru. Seperti Shrek yang kembali ke rawa bukan sebagai ogre penyendiri, tapi sebagai ayah dari tiga bayi raksasa. Rumahnya sama, dirinya tidak.

Maka wajar kalau rindu terasa aneh. Kita rindu sesuatu yang sudah tidak ada, tapi jejaknya masih tinggal di tubuh. Kita rindu suasana, bukan alamat. Kita rindu cara duduk, cara tertawa, cara diam yang dulu terasa aman.

Pergi jauh ternyata bukan pengkhianatan pada rumah. Ia justru syarat agar rindu punya makna. Tanpa pergi, pulang hanya rutinitas. Dengan pergi, pulang menjadi peristiwa.

Dan mungkin itu inti riung mungpulung hari ini:
bukan sekadar kembali,
tapi kembali dengan tahu mengapa kita ingin pulang.

You May Also Like

0 komentar