Demokrasi Berbahan Bakar Murah: Mahasiswa, Amplifier, dan Gorengan Dingin Ideologi

by - 12:00 AM


Saya tidak pernah bangga karena “sadar lebih dulu”.
Yang saya rasakan justru sebaliknya: lelah, dan sedikit sedih.

Sedih karena adik-adik mahasiswa itu lucu, imut, dan sungguh-sungguh.
Mata mereka masih menyala ketika bicara tentang perubahan, keadilan, dan masa depan bangsa. Mereka rela duduk berjam-jam di sekretariat, makan gorengan yang sudah dingin, mendengarkan cerita senior tentang perjuangan, tentang Orde Baru, tentang betapa mulianya turun ke jalan.

Andai saja mereka mau duduk sebentar lebih lama.
Bukan untuk diskusi ideologi, tapi untuk memperhatikan satu hal sederhana:
mengapa senior mereka selalu pulang dengan motor baru?

Saya pernah berada di dalam lingkaran itu.
Bukan di barisan depan teriak-teriak, bukan di balik spanduk.
Saya ada di ruang negosiasi—ruang yang jarang diceritakan ke adik-adik. Ruang ber-AC, pintu tertutup, kopi panas, bahasa santun, dan kalimat-kalimat yang terdengar dewasa.

Di luar, adik-adik dibakar semangatnya.
Di dalam, idealisme ditimbang, dihitung, lalu dibungkus rapi.

Setiap demo polanya hampir selalu sama.
Suara meninggi, media datang, headline lahir.
Mahasiswa menolak kebijakan X.
Negara tampak gaduh, publik penasaran.

Lalu kami masuk sebagai “penengah”.
Bahasanya selalu indah, selalu tegas, selalu terdengar heroik: kami akan kembali dengan massa lebih besar jika kebijakan ini tidak dicabut.

Ajaibnya, kebijakan itu hampir selalu tetap berjalan.
Yang berubah hanya satu: hidup para senior.

Adik-adik mulai bertanya dalam hati, meski jarang berani bersuara.
Kenapa tiap demo hasilnya sama?
Kenapa yang kami korbankan selalu tenaga, waktu, dan rasa takut, sementara yang lain naik kelas hidupnya?

Jawabannya sederhana, tapi menyakitkan:
karena demo pasca-Orde Baru tidak lagi dirancang untuk mengguncang negara.
Ia dirancang untuk mengukur reaksi, menciptakan gaung, dan mengalihkan perhatian.

Mahasiswa adalah bahan bakar demokrasi yang murah.
Tidak perlu logistik mahal.
Tidak perlu teknologi canggih.
Cukup idealisme, amarah, dan satu dua senior yang pandai berbicara.

Satu demo bisa menggetarkan linimasa nasional.
Membuat satu negeri bertanya-tanya: kebijakan apa ini sampai mahasiswa ribut?
Begitu dibaca isinya, banyak yang mengangguk: ah, ini biasa saja.

Selesai.

Negara tidak runtuh.
Stabilitas aman.
Yang jatuh hanya kelelahan adik-adik, IPK yang pelan-pelan turun, dan keyakinan bahwa suara mereka benar-benar didengar.

Keanehannya berlapis-lapis.
Aneh karena ada yang rela membakar adiknya sendiri demi posisi.
Aneh karena nurani bisa dinegosiasikan tapi tetap bicara moral.
Aneh karena ada yang betah jadi mahasiswa abadi, lalu tiba-tiba masuk partai dan entah bagaimana sudah menyandang gelar doktor.

Cepat sekali.
Padahal dulu kita tahu betul siapa yang paling rajin bolos dan siapa yang paling lantang bicara.

Saya berhenti di situ.
Bukan karena takut, tapi karena saya sadar satu hal:
saya tidak sanggup hidup dengan nurani yang dibisukan.

Saya memilih jalan yang tidak heroik.
Saya berdagang.

Daster, kaos, apa saja yang halal.
Tidak ada tepuk tangan, tidak ada panggung, tidak ada jargon besar.
Hanya berhadapan dengan diri sendiri setiap hari: malas, capek, ditertawakan, tetap lanjut.

Lucunya, kini justru adik-adik datang dan bertanya.
Bukan lagi tentang strategi demo, tapi tentang jualan.
Tentang bagaimana bertahan hidup.

Saya tidak memberi mereka slogan.
Saya hanya bertanya pelan:
kamu siap tidak menghadapi dirimu sendiri?

Karena berhadapan dengan polisi itu mudah.
Lempar batu, lari, selesai.
Yang sulit adalah bangun pagi tanpa sorak, bekerja tanpa panggung, dan jujur ketika tidak ada yang mengawasi.

Demokrasi akan terus berjalan dengan atau tanpa kegaduhan.
Pertanyaannya hanya satu:
siapa yang dijadikan bahan bakar kali ini?

Saya tidak merasa menang.
Saya hanya memilih tidak ikut gila.
Dan di zaman seperti ini, itu saja sudah cukup melelahkan.

You May Also Like

0 komentar