Demokrasi Murah, Heroisme Diskon, dan Orang-Orang yang Memilih Jualan Daster
Malam masih ramai oleh orang-orang yang merasa sedang menyelamatkan dunia. Asap rokok, kopi sachet, jargon pergerakan, dan kalimat berat yang dipinjam dari buku-buku tebal. Di sudut sekretariat, ideologi dibakar pakai gorengan dingin. Ada yang teriak paling keras, ada yang mencatat, ada yang diam sambil berharap namanya kelak disebut sejarah. Di luar sana, spanduk dikibarkan, suara diperbesar, dan heroisme dijual murah—cukup dengan hadir, teriak, lalu pulang. Demokrasi memang paling hemat kalau bahan bakarnya mahasiswa.
Aku pernah di situ. Pernah merasa berdiri di garis depan perubahan. Tapi ternyata garis depan itu hanya panggung. Di belakangnya, ada pintu lain: ruang negosiasi, senyum basa-basi, dan amplop yang berpindah tangan. Kami disuruh pulang dengan bahasa manis: kami akan kembali dengan massa lebih besar. Nyatanya, kebijakan tetap jalan, dan seseorang pulang dengan motor baru. Idealismemu habis terbakar, tapi sistem tetap dingin. Yang berubah cuma status WhatsApp dan caption foto.
Lucunya, adik-adik masih terus didorong maju. Dibakar. Disemangati. “Mahasiswa sekarang payah! Anak mami!” kata mereka yang kini duduk nyaman di kursi strategis. Kampus bangga. Negara bangga. Senior bangga. Dan adik-adik merasa berjasa—merasa ikut mengantar abang menuju jabatan. Sebagian belajar cepat: oke, ini polanya. Ikuti saja 100 persen. Murah. Efisien. Panjat sosial pakai jalur pergerakan. Besok-besok, gelar menyusul, posisi menyusul, dan ingatan tentang adik-adik pelan-pelan memudar.
Sebagian lain masih polos. Mereka benar-benar percaya. Percaya bahwa abang jadi pejabat karena kerja keras dan nurani. Mereka rela begadang, rela bentrok, rela IPK hancur, karena yakin sedang menanam masa depan bersama. Padahal yang mereka sirami adalah kebun orang lain. Saat mereka lelah, sistem hanya bilang: terima kasih atas partisipasinya.
Dan ada sebagian yang tidak berisik. Mereka mundur tanpa drama. Tidak bikin manifesto. Tidak minta validasi. Mereka menghilang dari poster, dari mimbar, dari headline. Ada yang jualan bakso. Ada yang dagang daster. Kaos, thrifting, les privat, apa saja. Bukan karena kalah, tapi karena muak. Karena sadar: berhadapan dengan polisi itu mudah—lempar batu, selesai. Yang susah itu berhadapan dengan diri sendiri, dengan pertanyaan paling sederhana tapi mematikan: hidupmu mau dipakai siapa?
Aku memilih bangun subuh. Bukan untuk revolusi, tapi untuk dagang. Sementara di sudut sana masih ada yang baru mau tidur setelah debat ideologis semalaman, aku menyeduh kopi sambil ngecek stok. Tidak ada heroisme. Tidak ada jargon. Hanya memastikan hari ini halal. Memastikan ada yang makan. Memastikan aku tidak perlu membunuh nurani demi merasa penting.
Ini bukan cerita tentang anti-perjuangan. Ini cerita tentang kelelahan. Tentang orang-orang yang akhirnya sadar bahwa tidak semua perubahan perlu panggung, dan tidak semua kebaikan perlu teriak. Ada yang memilih tetap di jalan besar, ada yang belok ke gang sempit bernama hidup. Yang satu sibuk menyelamatkan negara di poster, yang lain sibuk menyelamatkan dapur.
Dan mungkin, di situlah letak ironi paling sunyi: sistem tidak benar-benar takut pada mahasiswa yang berteriak. Sistem sudah hafal suaranya. Yang membuat sistem canggung justru mereka yang berhenti bermain. Yang tidak mau lagi jadi amplifier murah. Yang memilih jualan, bekerja, hidup, dan tetap manusia.
Subuh datang.
Aku berangkat dagang.
Tanpa heroisme.
Dan anehnya, justru di situ aku merasa paling waras.
0 komentar