Behavioral Biology atas Tragedi Anggaran Pemilu, Pinjam Bendera, dan Sindrom "Buatin Aja"

by - 9:00 AM

LOGO GARUDA, WEBSITE TEMPLATE, DAN MISTERI SAPIENS SALAH KAMAR

Kajian Behavioral Biology atas Tragedi Anggaran Pemilu, Pinjam Bendera, dan Sindrom "Buatin Aja"

Prolog: Glukosa yang Menguap di Meja Revisi

Di ekosistem internet hari ini, algoritma sering kali mempertemukan kita dengan fenomena sosial yang memancing empati sekaligus tawa getir. Salah satunya adalah kisah "Senbo" (Seniman Bocah) dari Bali. Ia membagikan anatomi penderitaan di balik pembuatan sebuah logo: briefing, filosofi, draf mock-up, palet warna, hingga pusaran setan bernama revisi.

Suatu ketika, Senbo dihadapkan pada satu spesies klien yang menguras habis cadangan glukosa di prefrontal cortex-nya. Klien ini diajak meeting untuk penyamaan visi, namun hanya merespons dengan dogma sakti: "Buatin aja." Saat draf disodorkan, amigdala sang klien menolak dengan alasan abstrak: "Nggak ada yang cocok." Diminta panduan spesifik, jawabannya berputar kembali ke factory reset: "Buatin lagi aja." Akhirnya, proyek jutaan rupiah itu dibatalkan demi menyelamatkan kewarasan sang seniman.

Apa yang membuat tragedi Senbo ini begitu meresonansi? Karena di belahan bumi yang lain, ketika berhadapan dengan entitas bernama "pemerintahan", saya pernah mengalami glitch kognitif yang persis sama.

Bab 1: Fisika Kuantum APBD dan Keajaiban Pemotongan Kue

Saat masih duduk di pemerintahan, saya disodorkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembuatan website sebuah lembaga pemilu provinsi sebesar Rp50 juta. Secara teori ekonomi rasional, dengan dana sebesar itu, otoritas seharusnya mencari developer dengan portofolio sekelas Silicon Valley. Namun, birokrasi Nusantara beroperasi dengan hukum fisika kuantumnya sendiri: carilah staf internal yang bisa mengerjakan website, bayar dengan harga "kekeluargaan", lalu sisa anggarannya kita ruqyah bersama-sama.

Saya ditunjuk. Ketika saya bertanya tentang visi website tersebut, mereka dengan penuh keyakinan menjawab: "Mau seperti website Kompas." Di titik ini, logika matematika saya diuji. Setelah draf "berbagi kue" disahkan, dari Rp50 juta itu, saya hanya dialokasikan Rp8 juta. Sisa Rp42 juta melayang ke dimensi lain, terdistribusi secara rapi ke Divisi A, Divisi B, Divisi C, dan tentu saja, biaya ritual administrasi paling mistis di negeri ini: "Pinjam Bendera CV".

Saya mencoba jujur secara profesional. Rp8 juta untuk arsitektur web sekelas Kompas adalah sebuah penghinaan terhadap ilmu Computer Science. Sebagai jalan tengah, saya menawarkan template WordPress ala organisasi standar lengkap dengan hosting paketan seharga di bawah Rp3 juta. Ajaibnya? Mereka langsung bersorak setuju dan bangga dengan hasilnya!

Mengapa mereka yang meminta "Kompas" bisa puas dengan template seharga tiga jutaan? Jawabannya sederhana: karena bagi mereka, website itu tidak pernah tentang fungsionalitas digital. Website itu adalah benda properti yang harus ada wujudnya semata-mata agar dana Rp50 juta itu sah dicairkan dan kuitansi bisa ditandatangani. Estetika dan UI/UX tunduk pada keagungan cap stempel.

Bab 2: Ekologi Mismatch dan Evolusi Logo Instan

Berbekal pengalaman ini, saya akhirnya memahami akar penderitaan Senbo. Ketika ia membocorkan bahwa klien ajaibnya itu berasal dari government, saya hanya bergumam sinis: Pantas!

Secara behavioral biology, apa yang dialami Senbo dan saya adalah korban dari fenomena Evolutionary Mismatch (ketidakcocokan evolusioner) dalam sistem personalia pemerintahan. Organisme ditempatkan di lingkungan yang sama sekali tidak sesuai dengan arsitektur biologis dan akademisnya. Lulusan ekonomi disuruh mengurus bidang kreatif visual. Ahli serangga (entomolog) diangkat memimpin badan gizi. Ini adalah komedi tata negara tingkat tinggi.

Ketika seorang Sapiens tanpa literatur desain dipaksa memimpin proyek branding visual, prefrontal cortex-nya tidak memiliki referensi memori tentang apa itu "filosofi warna" atau "tipografi". Akibatnya, otak mereka mengambil jalan pintas (heuristik) untuk menghemat kalori: menolak semuanya dan berlindung di balik kata "nggak cocok".

Dan ketika mereka terdesak tenggat waktu pencairan anggaran, insting bertahan hidup mereka akan memicu lahirnya masterpiece desain pemerintahan yang telah teruji selama puluhan tahun: Sebuah logo burung Garuda di tengah, dilingkari pita bertuliskan nama lembaga, dengan font Arial atau Times New Roman. Itu adalah puncak rantai makanan desain birokrasi. Bebas revisi, sangat nasionalis, dan yang terpenting: SPJ aman sentosa.

Epilog: Apologi untuk Template WordPress

Di akhir hari, saya dan Senbo adalah mamalia yang sama-sama berusaha bertahan hidup di tengah keabsurdan. Bedanya, Senbo memilih mundur untuk melindungi martabat seninya, sementara saya memilih jalan pragmatis yang menyelamatkan glukosa: menggunakan template yang sudah jadi.

Toh, pada akhirnya, dalam ekosistem birokrasi, pahlawan sebenarnya bukanlah programmer yang bisa menulis kode dari nol atau seniman yang bisa memeras filosofi. Pahlawan sesungguhnya adalah template WordPress dan CV sewaan.


DAFTAR PUSTAKA (Sandaran Lintas Ekosistem)

  1. Peter, L. J., & Hull, R. (1969). The Peter Principle: Why Things Always Go Wrong. (Menjelaskan fenomena birokrasi di mana individu akan terus dipromosikan hingga mereka mencapai "tingkat ketidakmampuan" mereka—seperti ahli serangga yang tiba-tiba mengurus program gizi nasional).

  2. Ibn Khaldun. (1377 M). Muqaddimah. (Kajian sosiologi Islam klasik yang secara akurat memprediksi kejatuhan efisiensi birokrasi negara akibat merebaknya praktik memburu rente ekonomi—seperti tradisi pembagian dana ke Divisi A, B, C secara siluman).

  3. Sapolsky, R. M. (2017). Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst. (Kajian neurobiologis tentang decision fatigue. Mengapa klien tanpa kompetensi kreatif cenderung menguras glukosa seniman dengan revisi tak berujung akibat ketidakmampuan otak mereka memproses informasi abstrak).

  4. Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. (Sandaran psikologis mengapa panitia pemilu yang awalnya meminta website sekelas Kompas, bisa sangat puas dengan template WordPress; karena otak System 1 mereka hanya memikirkan "yang penting anggaran bisa cair").

GLOSARIUM JENAKA

  • Ahli Serangga Badan Gizi: Bukti empiris bahwa di negeri ini, penempatan jabatan struktural tidak membutuhkan relevansi keilmuan, melainkan relevansi koneksi dan kelenturan tulang punggung.

  • Buatin Aja / Nggak Ada yang Cocok: Dua mantra maut yang sering diucapkan Sapiens birokrat untuk menutupi fakta bahwa mereka sendiri sebenarnya tidak tahu apa yang mereka inginkan di dunia ini.

  • Logo Birokrasi Paripurna: Artefak desain paling aman sedunia yang terdiri dari burung Garuda, lingkaran teks, dan latar belakang warna primer. Diciptakan khusus agar lolos audit BPK tanpa perlu menjelaskan filosofi branding.

  • Pinjam Bendera CV: Praktik sihir administrasi kelas tinggi di mana sebuah perusahaan tiba-tiba bisa mengerjakan proyek IT, tata boga, hingga pengadaan aspal dalam waktu yang bersamaan, cukup dengan menyewakan stempelnya seharga 5-10% dari nilai proyek.

  • Template WordPress: Juru selamat umat manusia (dan programmer pemerintah) yang berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah akibat ketidaksesuaian antara ekspektasi tinggi dan sisa anggaran yang sudah disunat habis-habisan.

  • Website Kompas: Standar halusinasi tertinggi klien pelit yang menginginkan portal berita internasional dengan budget seharga nasi kotak panitia.


You May Also Like

0 komentar