Alter, Daster, dan Martabat Bertahan Hidup
Ada kalanya, batin yang sudah rapi membuat kita bisa menertawakan sesuatu yang dulu terasa menghina.
Kalau batin masih semrawut, kalimat sederhana seperti,
“Lu nggak bisa masuk, lu tukang daster,”
bisa terasa seperti vonis kelas sosial.
Tapi hari itu saya tertawa. Bukan karena kalimatnya lucu, tapi karena saya sadar:
oh, ternyata batin saya sudah tidak lagi menggantungkan martabat pada profesi.
Saya jawab dengan bercanda—bukan bercanda kosong, tapi bercanda yang sengaja diarahkan ke arah logika yang patah tapi jujur.
Tusukan halus, sambil senyum.
Saya kirim foto sedang live.
Caption-nya ringan tapi niat:
Negara memberi fasilitas,
daster memberi kebebasan,
dan batin memilih yang kedua.
Tawa meledak sebentar.
Lalu hening.
Hening itu selalu menarik.
Biasanya bukan karena tidak lucu, tapi karena ada yang merasa tersentuh, ada yang merasa tertangkap, ada yang mendadak bercermin.
Di situlah saya sadar:
banyak dari kita sebenarnya ingin hidup seperti itu—lebih bebas, lebih pelan, lebih waras—
tapi tidak semua berani mengakuinya.
Kita hidup di zaman alter.
Di media sosial, semua orang punya versi diri yang meeting di coffee shop, padahal dompet dan batin sama-sama tipis.
Yang jual bakso tetap buka tiap hari, tapi jarang disebut “inspiratif”.
Yang jual daster dianggap lucu—sampai sadar: hidupnya justru paling hadir.
Saya tidak anti jabatan.
Saya tidak benci ASN.
Saya tidak alergi struktur.
Saya hanya memilih jujur:
martabat tidak selalu tinggal di kartu nama.
Ada martabat yang tumbuh dari bisa antar anak sekolah.
Ada martabat dari makan siang tanpa cemas besok.
Ada martabat dari tidak perlu pura-pura sibuk demi terlihat berhasil.
Dan yang paling penting:
ada martabat dari batin yang tidak lagi marah saat ditertawakan.
Karena lucunya,
ketika kita sudah berdamai dengan pilihan hidup sendiri,
ejekan kehilangan daya lukanya.
Yang tersisa cuma satu pertanyaan pelan, tapi nyaring:
kita ini sedang hidup, atau sedang menjaga alter?
Saya memilih daster.
Bukan karena tidak bisa yang lain,
tapi karena di titik ini,
bertahan hidup dengan waras adalah bentuk keberhasilan yang paling jujur. 😅
0 komentar