Catatan Manusia Waras di Tengah Kegilaan yang Diulang–Otomatis
(Edisi Lorong Pasar, Akun Ternak, dan Diapers Bekas)
Saya sudah berhenti bertanya: kenapa?
Karena di dunia ini, kalau kamu terlalu sering bertanya kenapa,
kamu akan kehabisan tenaga sebelum kehabisan musuh.
Awalnya saya kira ini insiden.
Order fiktif.
COD palsu.
Akun bodong.
Sekali dua kali.
Tiga kali.
Sepuluh kali.
Lalu saya sadar:
oh ini bukan error, ini ekosistem.
Manusia ternak akun itu ada.
Bukan metafora.
Bukan satire.
Beneran ternak.
Profilnya cantik.
Namanya islami.
Bio-nya kalem.
Alamatnya random.
Order masuk belasan.
Kadang 20.
Pernah tembus 40 dalam sehari.
Saya kirim barang.
Kurir capek.
Gudang capek.
Sistem capek.
Lalu retur.
Alasan klasik: tidak merasa memesan.
Oke.
Itu masih manusia.
Tapi kemudian levelnya naik.
Barang retur yang datang bukan daster.
Bukan kain.
Bukan apa-apa yang pernah saya jual.
Yang datang:
- sachet sabun bekas
- barang entah apa
- dan puncaknya…
DIAPERS BEKAS.
BAU.
BASAH.
ASTAGHFIRULLAH.
Di situ saya berhenti kaget.
Saya cuma mikir:
“Oh… lu segitu marahnya karena gagal nipu ya?”
Saya banding.
Saya lampirkan video packing.
Saya menang.
Seperti biasa.
Dan diapers itu?
Itu bukan kesalahan.
Itu balas dendam.
Balas dendam manusia yang bisnisnya adalah kegagalan orang lain.
Saya tidak marah.
Saya cuma kebas.
Again?
Besok: again.
Lusa: again.
Sampai rasa marah pun capek sendiri.
Di grup seller, korban bergelimpangan:
- yang jualan sempak nangis
- yang jualan kutang bingung
- yang jualan terasi ikut kena
- jualan rantang
- jualan tumbler
- jualan linggis pun kena
Semua sama:
“Saya jualan apa sih sampai segininya?”
Tenang, Kak.
Ini bukan personal.
Ini industrial.
Ini bukan kriminal tunggal.
Ini sistematis.
Saya sampai mikir:
ini phone farm bekas buzzer pemilu kali ya?
Udah nggak ada proyek,
akhirnya cari cuan dengan menikam nurani sendiri.
Tapi lalu saya ketawa:
“Ah salah. Mereka udah lama bunuh nurani.”
Yang paling lucu justru bukan pelakunya.
Yang paling absurd adalah sistem.
Saya lapor ke AM marketplace.
Minta pembatalan.
Sunyi.
Lalu tiba-tiba dia muncul:
“Kak, coba iklan lagi ya.”
HAHAHAHA.
Jadi begini ya:
- akun palsu merajalela
- seller babak belur
- sistem kelimpungan
Solusinya:
iklan.
Baik, Pak AM.
Fitur responsifnya sudah saya bayar. 😂
Saya iklan.
Besoknya dia nanya:
“Hari ini ada berapa order fiktif lagi, Kak?”
Uwanjay.
Sekarang kita sejajar rupanya.
Sesama petugas jaga neraka kecil bernama marketplace.
Seller lain masih nunggu balasan.
Masih bingung.
Masih nangis.
Saya?
Sudah kayak pasien BPJS yang kebetulan kenal suster jaga.
Bukan istimewa.
Cuma keburu terlalu lama bertahan.
Di titik ini, saya paham satu hal:
Kegilaan bukan karena orang jahat makin banyak.
Tapi karena sistem memberi ruang pada kebusukan kecil untuk tumbuh besar.
Dan yang bertahan bukan yang paling pintar,
tapi yang paling tidak reaktif.
Saya bisa marah.
Bisa maki.
Bisa viralin.
Tapi buat apa?
Saya pilih:
- catat polanya
- blokir akunnya
- minta pembatalan
- lanjut dagang
Karena marah itu mahal.
Dan saya masih harus jualan besok.
Lucunya, di tengah kekacauan ini,
saya masih live jualan daster.
Ngajarin emak-emak:
- cara masukin barang ke keranjang
- cara checkout
- cara bayar
- cara beli dua helai tanpa dua invoice
Literasi digital remeh-temeh.
Dan anehnya…
stok habis.
Di saat sistem rusak,
yang laku justru sikap manusiawi.
Saya bukan sufi.
Saya tidak tercerahkan.
Saya cuma pedagang kecil
yang terlalu sering ditertawakan
sampai akhirnya kebal.
Kalau kamu tanya:
“Kok masih waras?”
Jawabannya sederhana:
Karena saya sudah berdamai dengan fakta bahwa dunia ini memang busuk,
dan tugas saya cuma satu:
jangan ikut busuk.
Diapers bekas itu?
Silakan.
Saya buang.
Saya cuci tangan.
Saya lanjut hidup.
Again?
Silakan.
Saya masih jualan.
0 komentar