Lilin di Daster: Menjadi Heroik Tanpa Sorak
Aku tidak berdiri di garis depan peperangan, tidak memegang peta rahasia, dan tentu tidak ada Medal of Freedom menunggu di akhir jalan. Tapi hari-hariku memiliki medan sendiri: dapur yang beraroma jelaga, marketplace yang brutal, anak-anak yang butuh perhatian, dan dunia yang selalu menuntut hasil.
Seperti Josefina Guerrero, yang langkah pincangnya melewati tentara Jepang karena dunia takut pada tubuhnya yang rapuh, aku berjalan di antara manusia yang kadang tak peduli, kadang bermain curang, kadang menguji kesabaran. Bedanya medan kami—dia menghadapi pos pemeriksaan dan kematian yang nyata, aku menghadapi akun alter, pesanan palsu, dan komentar pedas di live daster.
Setiap hari, aku memandu emak-emak beli daster, mengajari mereka checkout dengan sabar, sambil menahan gelisah batin. Setiap transaksi palsu, setiap diapers bekas yang dikirim sebagai balas dendam, adalah ujian. Aku memilih tidak meledak, memilih tetap mengikuti SOP, menatap absurdnya dunia sambil tersenyum. Tidak ada heroisme yang riuh, hanya ketekunan yang dijalani diam-diam.
Di rumah, aku memastikan anak-anak makan dari sumber yang halal, tidur nyenyak, dan tumbuh dalam tawa tulus. Di marketplace, aku tetap berdagang, menghadapi kekacauan, menertawakan ketololan akun alter. Di hati, aku menjaga nurani tetap utuh. Semua itu lelah, kadang pahit, tapi tetap terasa benar.
Tidak ada monumen untuk ini. Tidak ada tepuk tangan dunia. Tidak ada sorak sorai. Hanya kepuasan sederhana: hidup tanpa bohong, memberi tanpa pamrih, dan tetap menjadi manusia di tengah absurditas yang mengelilingi.
Kadang aku berpikir, jika dunia melihatnya, mereka mungkin tertawa. “Ah, dagang daster, santai saja!” Tapi itulah keajaiban kecil: di medan yang berbeda, pola yang sama muncul—ketekunan yang terlihat remeh, keberanian yang tak terlihat, heroisme yang tidak butuh sorak.
Negara memberi fasilitas, daster memberi kebebasan, dan batin memilih yang kedua. Lilinku mungkin kecil, tetapi cahayanya tetap menuntun langkah, menenangkan nurani, dan menjadi kompas di medan hidup sendiri.
0 komentar