Sarata Sarutu Saluyu Salamet dan Hauqolah: Dua Bahasa untuk Menyusun Langkah yang Sama
Ada satu momen kecil dalam hidup manusia yang jarang dibicarakan, tapi selalu diulang:
saat kaki hendak melangkah keluar rumah.
Bukan momen besar.
Bukan saat akad, bukan saat kematian.
Hanya momen sederhana: membuka pintu, menghela napas, lalu pergi.
Di momen itulah orang-orang Sunda lama merapal pelan:
sarata sarutu saluyu salamet ku kersaning Allah.
Tidak ada yang sibuk bertanya artinya.
Kalimat itu tidak ditujukan untuk dipahami, tapi dirasakan.
Ia bekerja seperti simpul: mengikat yang di dalam sebelum berhadapan dengan yang di luar.
Hari ini, anak-anak Muslim Sunda lebih akrab dengan kalimat lain:
lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
Hauqolah.
Pendek, padat, kanonik.
Diajarkan di madrasah, di pengajian, di buku doa.
Sering kali dua kalimat ini diposisikan seolah berada di kubu yang berbeda.
Yang satu dianggap “rapalan buhun”.
Yang lain dianggap “doa langit”.
Padahal kalau ditelusuri pelan-pelan, keduanya berangkat dari ruang batin yang sama.
Sarata sarutu bukan mantra magis.
Ia adalah upaya menata diri agar tidak melangkah dengan ceroboh.
Sarata—tegak, siap, tidak goyah.
Sarutu—pendamping batin, kesadaran bahwa langkah tidak pernah sendiri.
Saluyu—selaras dengan keadaan.
Salamet—tujuan yang paling rendah hati: bukan sukses, bukan menang, tapi selamat.
Ku kersaning Allah—pengakuan terakhir bahwa semua itu tetap bukan milik kita.
Sekarang dengarkan hauqolah dengan telinga yang sama:
tidak ada daya, tidak ada kekuatan, kecuali atas izin Allah.
Ini bukan kalimat heroik.
Ini justru kalimat penurunan ego.
Kalimat yang berkata: aku akan berusaha, tapi aku tahu batas.
Jika sarata sarutu adalah bahasa rasa,
hauqolah adalah bahasa teks.
Yang satu lahir dari ladang, hutan, dan jalan tanah.
Yang satu lahir dari kitab, sanad, dan majelis ilmu.
Tapi keduanya bertemu di titik yang sama:
kesadaran bahwa manusia kecil, dan itu tidak apa-apa.
Masalah muncul ketika salah satu ditinggikan sambil merendahkan yang lain.
Rapalan dianggap syirik karena tidak berbunyi Arab.
Doa dianggap jauh karena terlalu langit, tidak membumi.
Padahal yang membuat doa bekerja bukan bahasanya,
melainkan posisi batin orang yang mengucapkannya.
Orang Sunda dulu tidak sedang menantang tauhid.
Mereka sedang merawat kewarasan.
Mereka tidak punya istilah “tawakkal”, tapi mereka mempraktikkannya.
Mereka tidak menyebut “locus of control”, tapi mereka tahu kapan harus melepas.
Hari ini, ketika seorang anak mengucap hauqolah sebelum berangkat sekolah,
dan orang tuanya masih menyimpan sarata sarutu di ingatan,
sebenarnya terjadi penyambungan generasi, bukan benturan.
Yang satu menjaga agar iman tidak melayang.
Yang lain menjaga agar budaya tidak hilang.
Keduanya bisa berdampingan tanpa harus saling mencurigai.
Karena pada akhirnya,
baik sarata sarutu maupun hauqolah tidak sedang mengatur Tuhan.
Mereka sedang menata manusia.
Dan manusia yang tertata,
lebih siap menghadapi dunia
tanpa perlu merasa paling benar,
dan tanpa kehilangan akar tempat ia berpijak.
0 komentar