Catatan Tambahan: Tentang AM, Iklan, dan BPJS Versi Marketplace
Di tengah kekacauan itu, muncul satu episode yang layak masuk arsip komedi gelap.
AM marketplace saya.
Yang sebelumnya…
hmm…
agak lama membalas saat saya minta pembatalan order fiktif massal.
Sunyi.
Sepi.
Hening seperti ruang tunggu UGD jam tiga pagi.
Tiba-tiba ia muncul.
Bukan dengan:
“Maaf ya kak, ini lagi chaos.”
Bukan dengan:
“Kami bantu percepat pembatalan.”
Tapi dengan kalimat sakti dunia platform:
“Kak, coba iklan lagi ya.”
Saya ngakak dalam hati.
Oh… jadi gini alurnya.
Kompensasi karena ratusan akun palsu dibunuh adalah:
seller disarankan ngiklan.
Baik, Pak AM.
Fitur responsifnya sudah saya bayar. 😂
Saya iklan.
Bukan karena bucin, tapi karena paham sistem.
Dan lucunya, besoknya dia nanya dengan santai:
“Hari ini ada berapa order fiktif lagi, Kak?”
Uwanjay.
Sekarang kita sudah sejajar rupanya.
Bukan lagi seller dan AM.
Tapi sesama petugas jaga kegilaan.
Saya jawab ringan.
Kayak laporan cuaca:
- “Hari ini mendung, Pak.”
- “Belasan.”
- “Polanya sama.”
- “Akun cantik, alamat random.”
Saya bisa bayangin seller lain di luar sana:
masih bingung,
masih panik,
masih nunggu balasan AM yang dingin kayak AC kantor pusat.
Sementara saya ini apa?
Sudah kayak peserta BPJS yang kebetulan kenal kepala ruangan.
Bukan karena spesial.
Tapi karena terlalu lama bertahan sampai sistem capek sendiri.
Dan di situ saya makin paham satu hal:
Marketplace itu bukan jahat.
Ia cuma mesin besar yang kelelahan.
Kalau kamu teriak, kamu antri.
Kalau kamu pingsan, kamu ditanya:
“Kak, sebelumnya pernah iklan?”
Seller lain mungkin masih mikir:
“Kok dingin banget AM-nya?”
Bukan dingin, Kak.
Itu mode default.
Hangatnya cuma keluar
kalau kamu sudah ikut iuran emosional,
finansial,
dan mental.
Dan saya?
Sudah di fase:
nggak marah,
nggak heran,
cuma senyum kecil sambil nyatet di buku:
Oh… jadi begini cara bertahan hidup di ekosistem digital.
Waras, sedikit sinis, dan jangan lupa… iklan kalau mau diajak ngomong.
Again?
Ya, again.
Besok?
Kita lihat.
0 komentar