Rumah Panggung dan Batin yang Pulang
Ada satu rasa yang sulit dijelaskan dengan argumen, tapi mudah dikenali oleh dada: hangat.
Hangat yang muncul bukan karena dibenarkan, melainkan karena dipahami.
Saya merasakannya ketika menyadari bahwa rapalan-rapalan yang dulu dianggap remeh—bahkan dicurigai—ternyata bekerja dari arah yang sama: berangkat dari batin, kembali ke batin. Aki koronjo kosong, nini koronjo kosong, pang ngosongkeun jalan kuring. Kalimat itu tidak sedang mengusir makhluk gaib, tidak sedang menantang langit. Ia sedang mengosongkan jalan di dalam diri, agar langkah tidak dibawa oleh kecemasan yang berlebihan.
Dulu, ada masa ketika semua itu dilihat dengan kacamata sempit. Sampurasun dijawab dengan hinaan. Rampes dipelintir menjadi “racun”. Rapalan dianggap musyrik. Bahasa ibu diperlakukan seperti barang bukti kesesatan. Hati saya menangis waktu itu, bukan karena dimaki, tapi karena melihat sesuatu yang lebih dalam: orang-orang yang lupa di mana mereka berpijak.
Jati ka silih ku junti.
Menukar jati diri dengan sesuatu yang bukan miliknya.
Mengagungkan bangsa tamu, lalu menertawakan leluhurnya sendiri.
Merasa suci sambil kehilangan rumah.
Ironisnya, tujuan mereka sama: batin yang tenang.
Tapi jalannya berbeda.
Ada yang sampai pada ketenangan lewat perawatan, ada yang lewat pelumatan.
Ada yang merawat hidup, ada yang ingin menguasai hidup—bahkan atas nama Tuhan.
Saya tidak menulis ini untuk membalas.
Marahnya sudah jinak.
Ia tidak lagi ingin menggigit, hanya ingin duduk dan melihat dengan jernih.
Sekarang zaman sudah berubah. Para penjual nasab kehilangan taringnya, bukan karena dilawan, tapi karena orang-orang mulai pulang. Warga Sunda mulai sadar: kami punya rumah. Rumah batin, rumah bahasa, rumah cara hidup. Rumah yang tidak perlu diseragamkan agar sah.
Biarkan saja rumah panggung dihina.
Ia tahan gempa.
Ia tahu medan.
Ia tumbuh dari tanahnya sendiri.
Masa iya di pedesaan Sunda dipaksa memakai rumah gaya Italia atau Spanyol? Secara estetika saja sudah tidak nyambung, apalagi secara batin. Rumah bukan sekadar bangunan, ia adalah perpanjangan dari cara manusia berdamai dengan alam dan dirinya sendiri.
Rapalan, doa, bahasa—semuanya hanyalah alat.
Yang menentukan bukan bunyinya, tapi niat merawat.
Merawat diri, merawat sesama, merawat tempat berpijak.
Hari ini saya menulis bukan untuk mengajak.
Apalagi menggurui.
Saya menulis untuk diri sendiri.
Jika warga Sunda membaca, silakan.
Jika tidak, juga tidak apa-apa.
Tulisan ini akan kembali kepada pribadi masing-masing, sebagaimana batin selalu menemukan jalannya sendiri untuk pulang.
Dan mungkin, di sanalah ketenangan yang paling jujur:
bukan ketika kita menang,
melainkan ketika kita tidak lagi perlu membuktikan apa-apa,
karena rumah sudah berdiri,
dan kita tahu cara merawatnya.
0 komentar