Burung Kedasih, Palembang, dan Kerupuk: Catatan Antropologis Anak yang “Geser Otak”
Di kampung saya dulu, suara burung kedasih bukan sekadar suara burung. Ia pertanda.
Kalau bunyinya parau dan muncul di waktu-waktu tertentu, orang dewasa langsung saling pandang. Ada yang akan meninggal. Akan datang bala. Sesuatu yang tidak enak sedang menuju kampung.
Lalu ada rapalannya. Sakral. Turun-temurun. Katanya bahkan lebih tua dari Indonesia merdeka:
“Ba’id ba’id, ka sebrang ka Palembang.”
(Jauh-jauh, pergi ke seberang, ke Palembang.)
Mantranya sederhana: jangan ke sini, pergi jauh, buang bala ke tempat lain.
Sebagai anak kecil yang kebanyakan mikir dan kurang takut, saya justru tergelitik.
Dalam kepala saya muncul pertanyaan yang sangat tidak pantas untuk diucapkan:
kenapa Palembang terus yang kebagian?
Kasihan juga, pikir saya. Setiap kampung mengirim bala ke sana. Ini burung kedasih atau ekspedisi kutukan antardaerah?
Maka saya menambahkan satu baris kecil, demi keadilan semesta dan logika anak-anak:
“Ba’id ba’id, ka sebrang ka Palembang, balik bawa kerupuk.”
Ibu saya langsung kaget.
Tatapannya bukan marah, tapi cemas—jenis kecemasan khas orang tua yang merasa ada yang sedikit bergeser di otak anaknya.
Saya dicubit.
Bukan karena keras kepala, tapi karena mulut saya dianggap mengacak-acak yang sakral. Kalimat itu bukan main-main. Ia diwariskan. Dijaga. Tidak boleh dimodifikasi. Apalagi ditambahi kerupuk.
Waktu berlalu. Saya dewasa. Menikah. Pindah ruang budaya.
Di desa ibu mertua, burung kedasih juga sering berbunyi. Suaranya tetap sama: parau, seram, seperti suara yang keluar dari hutan yang terlalu lama menyimpan rahasia. Saya refleks menunggu reaksi. Tidak ada. Tidak ada rapalan. Tidak ada kecemasan. Tidak ada bisik-bisik tentang bala.
Saya heran, lalu bertanya pelan:
“Bu, kalau di sini suara burung itu tidak apa-apa?”
Ibu mertua menoleh, berpikir sebentar, lalu menjawab jujur:
“Lho? Memangnya kenapa?”
Di titik itu saya sadar: makna bukan milik alam, tapi milik komunitas.
Burungnya sama. Suaranya sama. Yang berbeda adalah cerita yang menempel padanya.
Di kampung saya, burung kedasih adalah pembawa kabar duka.
Di kampung ibu mertua, ia hanya burung yang bersuara aneh.
Dan seperti manusia yang gagal belajar dari sejarah, saya mengulang kesalahan lama.
Dengan nada ringan, saya merapal lagi:
“Ba’id ba’id, ka sebrang ka Palembang, balik bawa kerupuk.”
Ibu mertua menatap saya. Lama.
Tatapan yang sama seperti ibu saya dulu.
Cemas. Mengukur. Bertanya dalam hati: ini anak menantu bercanda atau memang ada yang geser?
Di situlah saya tertawa sendiri—dalam hati.
Karena rupanya, di mana pun saya berada, posisi saya tetap sama:
anak yang terlalu cepat membaca simbol, lalu terlalu berani memainkannya.
Dari sini saya belajar satu hal penting secara antropologis:
yang sakral itu bukan karena bunyinya, tapi karena kesepakatan sosialnya.
Dan yang dianggap melanggar bukan karena salah, tapi karena keluar dari pakem yang menjaga rasa aman bersama.
Bagi ibu saya, rapalan itu pagar.
Bagi ibu mertua saya, rapalan itu tidak ada.
Bagi saya, rapalan itu teks hidup—bisa dibaca, dipahami, bahkan digeser sedikit untuk melihat reaksinya.
Dan mungkin itulah sebabnya saya sering dianggap “aneh”, “lucu”, atau “geser dikit”.
Karena saya tidak berhenti di percaya atau tidak percaya,
tapi melangkah satu langkah ke samping dan bertanya:
siapa yang diuntungkan oleh makna ini, dan siapa yang memikul bebannya?
Termasuk Palembang.
Yang entah kenapa sejak kecil sudah saya bayangkan sebagai tempat transit segala bala—dan kerupuk.
Kalau burung kedasih itu benar membawa petaka, saya tidak tahu.
Tapi satu hal pasti:
ia telah membawa saya pada pemahaman bahwa budaya bukan untuk ditertawakan,
melainkan untuk dipahami—meski kadang, sambil tertawa pelan.
0 komentar