Mahala, Mahayu, Mahabu: Catatan Antropologis dari Tungku Berjelaga
Saya tidak ingat kapan pertama kali memahami istilah mahala, mahayu, mahabu.
Ia tidak datang sebagai definisi.
Ia datang sebagai suapan.
Seorang ibu duduk di depan tungku. Api kecil. Asap tipis. Jelaga menempel di dinding dapur. Di tangannya, nasi hangat. Di pangkuannya, seorang anak yang belum tahu apa itu masa depan. Di sela-sela suapan, sang ibu berkata pelan—bukan mengajar, bukan mengancam—hanya mengingatkan:
“Anak itu titipan. Bisa jadi mahala, bisa jadi mahayu, bisa jadi mahabu.”
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Karena bahasa ini tidak dimaksudkan untuk dipahami saat itu.
Ia dimaksudkan untuk mengendap.
Mahala: Ketika Anak Menjadi Beban yang Tetap Disuapi
Dalam bahasa Sunda dapur, mahala bukan pahala surgawi.
Mahala berarti menyusahkan, memberatkan, menguji batas kesabaran.
Dalam terminologi psikologi modern, ini bisa diterjemahkan sebagai:
- anak dengan regulasi emosi yang belum matang
- perilaku menantang
- fase sulit dalam tumbuh kembang
Tapi di dapur, mahala tidak didiagnosis.
Ia diterima.
Ibu tetap menyuapi.
Tidak berhenti memberi makan hanya karena anak “merepotkan”.
Inilah pelajaran antropologis pertama:
Mahala bukan alasan untuk menarik cinta.
Ia adalah ujian daya tahan kasih.
Mahayu: Anak sebagai Rahayu Kehidupan
Mahayu berarti membawa rahayu—kebaikan, keindahan, keseimbangan.
Dalam bahasa akademik:
- secure attachment
- prososial
- resiliensi
- internalisasi nilai
Dalam bahasa dapur:
“Nya kitu atuh, jadi budak hade.”
Anak mahayu tidak dilahirkan.
Ia dibentuk oleh konsistensi:
- disuapi saat lapar
- ditegur saat salah
- dipeluk tanpa syarat
Mahayu bukan prestasi.
Ia buah dari laku panjang.
Mahabu: Ketika Unsur Kebinatangan Dibiarkan Merajalela
Mahabu adalah kata yang jarang ditulis hari ini.
Karena ia tidak sopan.
Ia menyebut sesuatu yang tidak enak: keras kepala, ego liar, tidak mau mengerti.
Psikologi akan menyebut:
- impulsivitas
- egosentrisme
- conduct problems
Ibu menyebut:
“Eta mah geus mahabu.”
Mahabu bukan kutukan.
Ia peringatan.
Dan yang penting:
Ibu tidak berhenti menyuapi anak yang mahabu.
Ia hanya tahu: kelak, dunia yang akan mengajar lebih keras.
Kerangka Parenting yang Tidak Pernah Ditulis
Jika diringkas secara antropologis, mahala–mahayu–mahabu adalah kerangka etik pengasuhan, bukan teknik.
Ia mengajarkan bahwa:
- anak bukan proyek
- orang tua bukan pengendali
- hidup adalah ruang belajar yang punya ganjarannya sendiri
Ibu tidak berkata:
“Kalau kamu begini nanti konsekuensinya sekian.”
Ibu berkata:
“Ibu sudah melakukan semampunya. Selebihnya urusan Allah.”
Di situlah tanggung jawab dikembalikan ke anak, tanpa kekerasan, tanpa ceramah panjang.
Ibu-Ibu Sunda dan Pengetahuan yang Tidak Pernah Masuk Jurnal
Ibu-ibu Sunda tidak pernah menulis jurnal ilmiah.
Tidak punya Google Scholar.
Tidak tahu istilah evidence-based parenting.
Tapi mereka:
- menghasilkan manusia yang bisa hidup
- tidak gagap realitas
- tahu kapan menunduk, kapan melawan
- tahu bedanya ego dan harga diri
Ironinya:
- generasi sekarang membaca ratusan artikel parenting
- untuk menemukan kembali apa yang dulu sudah ada di dapur
Kerinduan yang Tidak Pernah Diucapkan
Mungkin yang sebenarnya kita rindukan bukan masa kecil.
Bukan ibu secara fisik.
Tapi rasa aman saat disuapi di depan tungku,
saat hidup belum perlu dijelaskan,
saat baik dan buruk belum jadi teori,
saat nilai ditanam lewat kebiasaan, bukan presentasi.
Dan mungkin, ketika kita menulis panjang lebar tentang parenting hari ini,
yang sedang kita lakukan hanyalah:
mencari jalan pulang ke dapur,
ke ibu,
ke bahasa yang tidak pernah butuh definisi.
0 komentar