Mak, tentang lelah yang tetap dijaga halal
Mak,
Aku nulis ini bukan karena sedang kuat.
Justru karena aku lelah.
Lelah menahan kaki yang kadang limbung,
lelah menanggung banyak hal yang tidak semua bisa diceritakan,
lelah memastikan satu hal yang selalu emak tanyakan sejak dulu—
halal nggak?
Mak, kadang aku ingin jawab dengan cepat dan ringan,
tapi kenyataannya aku harus mikir panjang sebelum bilang:
“InsyaAllah, Mak.”
Karena hidup ternyata bukan cuma soal makan hari ini,
tapi memastikan yang makan besok tidak tumbuh dari sumber yang busuk.
Aku menanggung orang-orang, Mak.
Bukan cuma perut mereka, tapi juga batinnya—
dan itu berat.
Aku belajar mengendapkan banyak hal yang kelihatannya sepele,
tapi kalau tidak ditata, bisa jadi racun.
Tentang hantu, pamali, rasa marah yang diwariskan,
tentang benci pada Tuhan yang diam-diam tumbuh kalau hidup terlalu menekan.
Aku memilih mengalah dalam relasi keluarga,
bukan karena kalah,
tapi karena capek bertengkar tanpa arah.
Mak, ini melelahkan.
Menjaga diri tetap waras,
tetap halal,
tetap senyum di depan orang,
tertawa walau kadang tawanya palsu—
supaya tidak meledak di tempat yang salah.
Kalau aku diam belakangan ini,
itu bukan karena aku jauh dari nilai yang emak tanamkan.
Justru karena aku sedang memeluknya erat-erat
biar tidak jatuh saat jalanan licin.
Aku belum jadi siapa-siapa, Mak.
Tapi aku masih ingat satu kalimatmu
yang selalu jadi pagar paling keras dalam hidupku:
“Kerjamu apa saja tidak apa-apa.
Yang penting halal.”
Kalau hari ini aku masih berdiri,
itu bukan karena aku kuat,
tapi karena kalimat itu
tidak pernah lepas dari kepalaku.
Doakan aku ya, Mak.
Bukan supaya cepat berhasil,
tapi supaya tetap jujur
saat dunia memberi seribu alasan untuk curang.
Anakmu
yang lelah,
tapi masih berusaha pulang dengan tangan bersih
dan hati yang tidak terlalu rusak
0 komentar