Catatan Manusia Waras di Tengah Kegilaan Berulang
Awalnya saya kira ini cuma fase.
Semacam musim hujan dalam dagang online: becek, licin, tapi nanti juga reda.
Ternyata bukan musim. Ini pola.
Hari ini order aneh.
Besok lagi.
Lusa lagi.
Reaksi saya makin pendek, makin datar, makin absurd:
again?
Bukan marah.
Bukan panik.
Lebih ke rasa seperti sudah dibius duluan sebelum sadar:
oh, kamu lagi… iya, silakan ambil nomor antrean kegilaan di situ.
Saya sudah lama hidup berdampingan dengan akun alter.
Yang niatnya cuma satu: mengacaukan, menguras, lalu menghilang.
Order fiktif, alamat random, COD, retur, banding, menang.
Ulang lagi.
Menang lagi.
Ulang lagi.
Sampai satu titik, datang kiriman yang bahkan tidak masuk di imajinasi keburukan saya:
diapers bekas. Bau. Nyata. Dikirim dengan penuh kesadaran.
Di situ saya tidak marah.
Saya malah mikir:
oh… kamu segini frustrasinya ya.
Ironisnya, refleks pertama saya bukan makian, tapi empati yang nyasar:
maaf ya, usaha kamu gagal.
Lucu kan?
Ke orang yang jelas-jelas niat jahat, saya masih minta maaf.
Bukan karena dia pantas, tapi karena batin saya sudah terlalu lama dilatih untuk tidak meledak.
Dan justru di situ saya sadar:
ini bukan tentang saya kuat atau tidak.
Ini tentang kegilaan yang diulang-ulang sampai manusia waras dipaksa menyesuaikan diri.
Marketplace kelimpungan.
Ribuan order dibatalkan.
Ratusan akun diblokir.
Besoknya tumbuh ribuan lagi.
Saya bisa bayangkan sistemnya pusing:
bagaimana kalau seller kabur?
bagaimana kalau semua capek?
bagaimana kalau yang jujur akhirnya kalah karena lelah?
Saya sendiri tidak kabur.
Bukan karena heroik.
Tapi karena sudah keburu kenyang.
Kenyang menghadapi manusia yang hidupnya dihabiskan untuk mencari celah receh.
Kenyang melihat betapa seriusnya sebagian orang mengorganisir kebusukan kecil.
Kenyang dengan absurditas bahwa energi sebesar ini dipakai bukan untuk bertahan hidup, tapi merusak hidup orang lain.
Yang paling melelahkan bukan kerugiannya.
Bukan stok yang kacau.
Bukan retur yang harus dicek satu-satu.
Yang melelahkan itu pengulangan tanpa makna.
Again?
Again.
Again.
Dan anehnya, di tengah semua itu, saya masih bisa ketawa kecil.
Bukan karena lucu.
Tapi karena kalau tidak ditertawakan, kegilaan ini akan minta diakui sebagai normal.
Saya tidak merasa lebih suci.
Saya juga manusia yang bisa kesal.
Saya cuma memilih satu hal:
mengikuti SOP, menutup celah, lanjut dagang, lanjut hidup.
Tidak semua kebusukan perlu dilawan dengan emosi.
Sebagian cukup dilawan dengan ketekunan yang dingin dan jarak batin.
Kalau mereka berharap saya marah,
yang mereka dapat cuma catatan ini.
Catatan manusia waras
yang sudah terlalu sering bertanya:
again?
0 komentar