Riung Mungpulung: Belajar Pulang dari Shrek 3 dan Tiga Cara Menatap Waktu

by - 12:00 AM


Ada satu pelajaran hidup yang kadang baru terasa setelah kita pergi cukup jauh dari rumah: kerinduan tidak selalu ingin pulang ke tempat, sering kali ia hanya ingin pulang ke rasa. Orang Sunda menyebutnya riung mungpulung—berkumpul kembali. Bukan sekadar hadir fisik, tapi kembali ke satu lingkaran yang pernah membuat kita merasa utuh.

Anehnya, pelajaran ini justru saya temukan dari film animasi yang dulu saya anggap receh: Shrek 3.

Dulu, saya melihat Shrek dengan kacamata sederhana. Ogre hijau yang tidak betah hidup teratur, lalu pergi merantau. Di perjalanan, ia kangen Fiona. Selesai. Cerita cinta biasa. Baru belakangan saya sadar, Shrek 3 bukan soal ogre yang kabur dari takhta, tapi tentang manusia—atau makhluk—yang sedang bernegosiasi dengan waktu.

Shrek kehilangan figur ayah (Raja Harold), dipaksa mewarisi masa depan yang tidak ia minta, lalu memilih pergi untuk mencari pengganti. Ia tidak lari karena pengecut, tapi karena tahu: tidak semua yang diwariskan harus diterima. Di saat yang sama, kerajaan yang ia tinggalkan justru berantakan. Nostalgia kejayaan lama dimanfaatkan Pangeran Tampan, para penjahat dongeng berkumpul, dan kekacauan terjadi.

Ini menarik. Ketika masa lalu dijadikan klaim kekuasaan, dan masa depan dipaksakan tanpa kesiapan, yang muncul justru krisis.

Di sinilah riung mungpulung menemukan maknanya. Berkumpul kembali bukan berarti kembali ke masa lalu, tapi kembali dengan versi diri yang sudah berubah.

Idul Fitri sering jatuh ke jebakan yang sama. Kita berkumpul, lalu tenggelam dalam nostalgia. Rumah lama, cerita lama, versi diri yang dulu—semua dihidupkan kembali seolah waktu bisa diputar. Kita tertawa, kadang menangis, lalu diam sejenak ketika sadar: rumah itu sudah berubah, suasananya tidak sama, dan kita pun bukan orang yang dulu.

Nostalgia itu wajar. Ia fase pertama dalam refleksi waktu. Masa lalu memang layak dikenang, tapi tidak untuk dijadikan tempat tinggal. Ketika nostalgia dirawat berlebihan, ia berubah menjadi romantisasi—masa lalu terasa lebih suci, lebih hangat, lebih benar dari hari ini. Padahal sering kali, yang kita rindukan bukan masanya, tapi posisi kita yang dulu lebih sederhana.

Fase kedua adalah yang paling sunyi: menjalani hari ini dengan sadar. Tidak heroik. Tidak dramatis. Seperti Shrek yang akhirnya sadar bahwa hidup di rawa bersama Fiona—dengan segala kerepotannya—lebih jujur daripada takhta yang berkilau. Hari ini tidak meminta kita hebat. Ia hanya meminta kita hadir. Makan bersama. Mendengarkan. Menyelesaikan tanggung jawab kecil yang tidak pernah masuk cerita besar.

Di fase ini, hidup terasa datar. Tapi justru di sinilah fondasi dibangun. Tidak ada kudeta. Tidak ada dongeng. Hanya ritme.

Lalu fase ketiga: menatap masa depan dengan mawas, bukan waswas. Ini bedanya harapan dan kecemasan. Waswas ingin mengontrol segalanya. Mawas tahu bahwa masa depan tidak bisa dipastikan, tapi bisa disikapi. Artie di Shrek 3 tidak jadi raja karena darah biru atau keberanian tiba-tiba. Ia jadi raja karena mau belajar bertanggung jawab, meski ragu, meski tidak populer.

Masa depan tidak membutuhkan kita yang paling siap. Ia hanya membutuhkan kita yang cukup sadar untuk tidak merusaknya dengan ego masa lalu atau ketakutan hari ini.

Maka riung mungpulung bukan sekadar pulang kampung. Ia adalah pulang ke relasi—dengan keluarga, dengan waktu, dengan diri sendiri. Kita berkumpul bukan untuk mengulang masa lalu, tapi untuk menyadari: kita masih berjalan bersama, meski arah dan kecepatannya berbeda.

Setelah itu, kita pergi lagi. Kembali ke hidup masing-masing. Dengan langkah yang mungkin masih ragu, tapi tidak lagi kosong.

Dan mungkin, seperti Shrek yang akhirnya kembali ke rawa tanpa rasa kalah, kita pun bisa pulang dari Idul Fitri tanpa beban romantisasi—cukup membawa satu kesadaran sederhana:
masa lalu untuk dikenang,
hari ini untuk dijalani,
dan masa depan untuk disambut dengan kepala dingin.

Itu saja sudah cukup dewasa.

You May Also Like

0 komentar