Kirain Haid Itu Rukun Islam Keenam

by - 12:00 AM

Saya tumbuh dalam dunia yang rapi—terlalu rapi. Dunia tempat segala sesuatu punya nama, aturan, dan batas yang jelas. Dunia tempat haid bukan sekadar peristiwa biologis, tapi peristiwa kosmik. Ia dibahas khidmat, penuh istilah Arab, penuh konsekuensi hukum, dan tentu saja: penuh bisik-bisik.

Sebagai anak laki-laki dari tujuh bersaudara—enam di antaranya brandalan kecil—menstruasi adalah sesuatu yang sakral sekaligus misterius. Ia hadir bukan lewat buku biologi, tapi lewat pengajian ibu-ibu. Saya sering ikut duduk, karena kecil dan tidak punya teman. Di situ saya mendengar penjelasan yang jauh melampaui usia saya: darah haid, darah nifas, darah istihadhah. Semua dibedah serius, seolah tubuh perempuan adalah kitab fiqih berjalan.

Larangan pun datang beriringan. Perempuan haid tidak boleh ke masjid. Tidak boleh shalat. Tidak boleh puasa. Bukan karena hina, kata orang dewasa, tapi karena menjaga kesucian. Saya manggut-manggut. Masuk akal. Saat itu pembalut bukan barang mudah. Darah adalah sesuatu yang harus dijaga jaraknya dari ruang ibadah. Saya menerimanya sebagai aturan alam semesta.

Masalahnya, dunia saya saat itu hanya satu warna. Islam adalah satu-satunya lensa. Maka tanpa sadar, otak saya melakukan generalisasi polos: haid adalah urusan muslimah. Titik. Seperti zakat. Seperti puasa. Seperti pengajian ibu-ibu itu sendiri.

Bertahun-tahun kemudian, saya bekerja di kantor. Dunia tiba-tiba melebar. Ada istilah baru: PMS. Disebut santai. Diceritakan ringan. Tidak ada fiqih. Tidak ada darah yang dibagi tiga kategori. Tidak ada larangan masjid. Hanya keluhan kram, emosi naik turun, dan cokelat sebagai solusi universal.

Di situlah kepolosan saya mencapai klimaksnya.

Dengan wajah jujur tanpa lapisan, saya bertanya: “Eh… emang selain muslim juga haid? Kalau lahiran, ada nifas juga?”

Sunyi sepersekian detik. Lalu tawa pecah. Bukan tawa jahat, tapi tawa orang-orang yang baru menyadari bahwa di hadapan mereka berdiri seorang manusia dewasa dengan sistem operasi lama yang belum di-update.

Saya ikut tertawa, meski di dalam kepala ada sistem yang runtuh. Jadi… haid itu biologis? Bukan eksklusif? Bukan identitas? Bukan domain pengajian?

Di situlah saya mulai curiga: mungkin selama ini saya tidak belajar tubuh, tapi belajar simbol. Menstruasi dijadikan pagar moral, bukan pengetahuan. Ia sakral bukan karena tubuhnya, tapi karena tafsir yang mengitarinya.

Lalu pikiran saya melompat lebih jauh—ke konsep dosa, tawa, dan hati. Saya teringat kalimat-kalimat lama: terlalu banyak tertawa membuat hati keras. Di kepala saya muncul adegan absurd: yaumul hisab seperti nobar dosa. Semua dosa diputar di layar besar, ditonton rame-rame, dan orang-orang tertawa. Apakah itu yang ditakuti? Apakah tawa membekukan hati karena ia merontokkan rasa takut?

Atau justru sebaliknya: tawa membuka jarak sehat antara simbol dan realitas?

Saya sadar, pertanyaan saya dulu bukan bodoh. Ia hanya terlalu literal. Saya menerima simbol sebagai fakta biologis. Saya menerima hukum sebagai sifat alam. Padahal simbol itu konteks, dan konteks bisa berubah.

Hari ini saya tidak menertawakan ibu-ibu pengajian itu. Saya paham kehati-hatian mereka. Saya juga paham kenapa dulu menstruasi terasa mencekik. Itu dunia dengan sumber daya terbatas dan pagar harus rapat.

Yang saya tertawakan sekarang adalah diri saya sendiri—anak kecil yang duduk khidmat mendengar darah, lalu tumbuh dewasa dengan keyakinan bahwa hanya muslimah yang berdarah tiap bulan.

Dan dari situ saya belajar satu hal penting:
kepolosan literal bukan untuk dipermalukan, tapi untuk diikat jadi pengetahuan.

Karena tanpa bertanya telanjang seperti itu, dunia tak pernah benar-benar melebar.

You May Also Like

0 komentar