Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Filosofi Dapur yang Menyelamatkan Manusia

by - 12:00 AM


Di desa, aku pernah diminta ngisi kajian. Awalnya mikir, ah, pakai bahasa akademik lah, ghozwul fikri, ghozwul tsaqofi. Tapi tiba-tiba aku tersadar: orang-orang di sini butuh bahasa dapur, bahasa yang bisa ditelan tanpa tersedak. Bukan teori tinggi, bukan jargon abstrak. Cukup masak hidup sehari-hari pakai kata-kata yang mereka pahami.

Aku bicara begini: “Ceu, Ma, anak-anak kalian nanti punya tantangannya sendiri. Bekali mereka ilmu, lewat sekolah, lewat pengajian, tapi jangan lupa bekali juga nurani mereka. Tanpa itu, ilmu sehebat apapun bisa jadi senjata melumat sesama.”

Orang-orang tertawa, aku juga ikut tertawa. Tapi di balik tawa itu ada pelajaran yang keras: hidup itu bukan soal siapa paling pintar, paling hebat, atau paling banyak jabatan. Hidup itu soal bertahan tanpa melumat orang lain.

Aku melihat kakek sepuh, yang sudah lama hidup di kampung ini, mengangguk pelan. Mereka mungkin tak pernah membaca Plato atau Kant, tapi mereka sudah menjalankan ta’awun—saling menolong—tanpa harus diberi teori. Mereka hidup dengan silih asah, silih asih, silih asuh. Kata-kata ini sederhana, tapi membawa manusia tetap waras, tetap utuh.

Aku bercerita tentang anak-anakku, tentang masa kecil yang aku jalani dulu: pagi buta ditinggal kerja orang tua, pulang larut, menjadi pelampiasan, menjadi penonton dari heroisme mereka sendiri. Aku tidak mau anakku melalui itu. Aku ingin mereka bisa makan tanpa bohong, hidup tanpa melumat nurani orang lain, bahkan saat dunia menawarkan cara instan: sogok sana, tipu sini, heroik palsu.

Aku juga berbagi cerita dagang daster. Bukan karena ingin pamer, tapi karena di situ aku belajar kesabaran, konsistensi, dan menghadapi manusia nakal. Dari emak-emak yang harus dipandu cara belanja beda warna, sampai akun palsu yang bikin order fiktif ribuan kali sehari, aku belajar: kamu bisa marah, tapi batin harus tetap waras. Hidup harus lanjut.

Ini bukan sekadar cerita dagang. Ini perang kecil batin yang kita jalani sehari-hari. Dunia bisa kacau, buzzer bisa iseng, pejabat bisa korup, tapi kita tetap punya pilihan: tidak melumat, tetap manusiawi. Itu yang aku ajarkan—bukan hanya anakku, tapi siapa saja yang mau mendengar.

Dan di tengah tawa, di tengah lelah, aku menyadari satu hal: filosofi tinggi itu indah, tapi yang membuat hidup berjalan adalah yang sederhana, nyata, bisa dicium, disentuh, dirasakan. Masaklah hidup sehari-hari dengan nurani yang utuh. Jangan lupakan silih asah, silih asih, silih asuh.

Mereka yang tampak bodoh di desa mungkin lebih bijak dari kita yang membaca ribuan halaman buku teori. Mereka sudah menjalankan ta’awun tanpa harus diberi gelar. Dan aku, yang lahir dari dapur dengan filsafat ceker, belajar lagi: menjadi manusia tidak harus heroik, cukup waras, cukup ikhlas, cukup menertawakan diri sendiri, dan tetap memberi makan hati orang lain.


You May Also Like

0 komentar