Catatan Manusia Waras di Tengah Kegilaan yang Diulang–Otomatis

by - 6:00 PM


Ada satu pola yang belakangan ini makin kentara, dan anehnya tidak lagi bikin marah—lebih ke geli bercampur lelah.
Pola itu bernama: kegilaan yang diulang, lalu dinormalisasi.

Saya pernah berada di dalamnya.
Bukan di barisan teriak-teriak, bukan di ujung pengeras suara.
Saya di ruang negosiasi. Ruang ber-AC. Pintu tertutup. Kopi panas. Bahasa halus.

Di luar, adik-adik mahasiswa dibakar semangatnya.
Di dalam, idealisme dibungkus rapi, lalu diselipkan ke amplop.

Ritual Demo yang Terlalu Rapi

Setiap demo, polanya sama:

  • Adik-adik turun dengan dada panas.
  • Spanduk naik, teriakan menggema.
  • Media datang.
  • Headline jadi.

Lalu “abang-abang” masuk sebagai negosiator.

Bahasanya selalu seragam, seperti skrip:

“Kami akan kembali dengan massa yang lebih besar jika kebijakan ini tidak dicabut.”

Nyatanya?

  • Kebijakan tetap jalan.
  • Demo selesai.
  • Senior beli motor baru.

Aneh ya.

Aneh karena adik-adik mulai sadar:

“Loh, kok tiap demo hasilnya sama?”

Aneh karena demo itu tidak pernah diniatkan untuk menang,
tapi cukup ramai agar kebijakan cepat dikenal publik.

Murah. Efektif. Dan korbannya selalu sama: mahasiswa ideologis, polos, naif.

Mahasiswa sebagai Amplifier Murah

Coba jujur sebentar.

Satu demo saja bisa:

  • jadi headline nasional,
  • bikin satu negeri penasaran,
  • memancing perdebatan,
  • dan… menguji opini publik.

Rakyat awam lalu mikir:

“Ini kebijakan apaan sih? Kok mahasiswa sampai ribut?”

Setelah dibaca:

“Lah, ini kan biasa aja. Mahasiswanya lebay.”

Selesai.

Kebijakan jalan. Citra pejabat terselamatkan. Mahasiswa dicap aneh.

Dan semua itu dibayar dengan:

  • idealisme adik-adik,
  • jadwal kuliah berantakan,
  • bentrok dengan aparat,
  • dan trauma kecil yang kelak disebut “pendewasaan”.

Murah sekali biaya politiknya.

Keanehan yang Disengaja

Aneh itu berlapis:

  • Aneh mau jadi amplifier murah sambil mengorbankan adiknya sendiri.
  • Aneh berani membunuh nurani tapi masih bicara moral.
  • Aneh sengaja jadi mahasiswa abadi.
  • Aneh… tiba-tiba masuk partai, dan ups, sudah S3 saja.

Cepat sekali naiknya. Padahal dulu IPK pas-pasan, tapi sekarang fasih bicara demokrasi sambil pegang proposal.

Saya ada di situ.
Dan saya mundur.

Bukan karena takut. Tapi karena saya tidak bisa hidup tanpa nurani.

Dari Ruang Negosiasi ke Lapak Daster

Saya menyerah pada satu kesimpulan sederhana:

“Kalau begini caranya, saya tidak cocok.”

Saya tidak marah. Saya hanya… capek.

Dan saya memilih jalur paling tidak keren: dagang.

Daster. Kaos. Apa saja yang halal.

Lucunya, belakangan ini justru banyak adik-adik mahasiswa—adik saya sendiri, calon murid—datang dan bertanya:

“Kanda, arahan dong.”

Bukan soal demo. Bukan soal ideologi.

Tapi:

“Saya mau jualan juga. Entah daster, entah kaos.”

Saya tidak langsung jawab.

Saya balikin pertanyaannya:

“Kamu siap berhadapan dengan diri sendiri?”

Mereka bingung.

Karena:

  • berhadapan dengan polisi itu mudah,
  • lempar batu sambil tertawa, selesai,
  • paling lari, viral sedikit.

Tapi:

  • berhadapan dengan diri sendiri?
  • bangun pagi saat malas?
  • jualan meski ditertawakan?
  • konsisten tanpa tepuk tangan?

Itu sunyi.
Dan sepi selalu lebih menakutkan daripada gas air mata.

Penutup: Waras Itu Tidak Heroik

Saya tidak merasa jadi pahlawan. Saya hanya memilih tidak ikut gila.

Di dunia yang:

  • memelihara kegaduhan,
  • menjadikan nurani barang opsional,
  • dan merayakan kelicikan sebagai kecerdikan,

menjadi manusia waras itu:

  • tidak viral,
  • tidak keren,
  • tidak dielu-elukan.

Tapi cukup untuk membuat saya bisa tertawa, dagang lagi besok, dan tidur tanpa harus berdamai dengan kebusukan sendiri.

Kalau itu dianggap kalah, saya rela.

Karena saya sudah lihat dari dekat: menang dengan membunuh nurani, ternyata lebih melelahkan.

You May Also Like

0 komentar