Tentang Nilai A-, Hafalan Kacau, dan Ayah yang Ikut Loncat-loncat di Kamar

by - 12:00 AM

Anak saya beberapa kali pulang dengan cerita yang sama: hafalannya kacau, nilainya A-.

Dan jujur saja, ia biasa saja. Tidak menangis, tidak panik, tidak merasa kiamat akademik. Mungkin karena ia hidup di rumah yang tidak lagi menganggap nilai sebagai ukuran cinta. Tidak seperti zaman saya dulu—salah hafal sedikit, hukumannya bisa ikut dihafalkan oleh badan.

Saya tidak menasihati panjang. Tidak ada ceramah tentang masa depan, apalagi ancaman. Saya hanya bilang begini, pelan, sambil duduk biasa saja:

“Kakak juga harus belajar. Jarak rumah ke sekolah sama tempat ngaji kan jauh. Kakak capek. Ayah juga capek antar-jemput. Jadi biar nggak percuma, pas belajar ya fokus dulu aja. Biar capeknya ada gunanya.”

Ia diam.
Entah mencerna, entah memproses, entah cuma menatap tembok sambil ngobrol dalam kepalanya sendiri. Tapi sejak itu, perlahan, ada yang berubah. Bukan jadi anak jenius mendadak—tidak. Ia belajar hadir saat belajar. Fokus. Bertanggung jawab pada waktunya sendiri.

Lucunya, tujuan akhirnya sebenarnya sama dengan pola lama: supaya “berhasil” belajar. Bedanya, dulu keberhasilan dicapai lewat takut. Sekarang lewat makna.

Suatu hari saya tambahkan satu kalimat lagi, hampir sambil lalu:
“Hasilnya urusan miss ya. Sama satu lagi… nggak boleh som—”
Ia langsung menyambung, refleks: “Sombong.”

Belakangan ia cerita tentang temannya yang baru hafal sedikit tapi sudah belagu. Lalu ia menutup dengan kalimat yang membuat saya senyum sendiri:
“Kakak biasa aja padahal sudah hafal.”

Saya ikut senang. Saya bilang, “Ayah senang dong kakak sudah hafal. Kalau mau senang, nggak apa-apa. Dulu ayah juga kalau hafal suka loncat-loncat.”

Dan benar saja.
Puncaknya datang ketika ia harus menghafal ghorib—72 baris. Bukan hafalan ecek-ecek. Bahkan anak SMP pun sering tertukar di bagian ini. Ia berhasil. Selesai setor, ia loncat-loncat di kamar seperti baru menang final. Saya ikut loncat-loncat. Dua orang dewasa dan satu anak, sama-sama senang tanpa rasa takut.

Nilainya sempurna di imtasan. Tapi itu terasa seperti bonus. Efek samping dari sesuatu yang lebih penting: belajar tidak lagi menegangkan.

Sekarang ia masih agak malu berteman dengan remaja. Tidak apa-apa. Saya biarkan saja. Ada fase yang memang tidak perlu didorong-dorong. Anak bukan proyek percepatan.

Kadang saya berpikir, yang sedang saya ajarkan bukan hafalan, bukan nilai, bahkan bukan disiplin. Tapi satu hal sederhana: bahwa usaha itu layak dihormati, dan keberhasilan itu aman untuk dirayakan—tanpa harus menginjak siapa pun.

Dan mungkin, itu cukup.

You May Also Like

0 komentar