Senior Brengsek, Tapi Masih Ada Nurani
Awalnya saya naif. Saya pikir, siapa pun yang duduk di kursi strategis pasti akan membuka usaha, apa saja, entah kuliner atau malah proyek yang bisa merusak—tambang, monopoli, yang lain-lain. Di kepala saya, jabatan itu adalah cadangan pemasukan, peluang untuk menyerobot apa saja, hidup aman di atas fondasi yang sudah dicetak orang lain.
Ternyata tidak begitu. Mereka masih manusia. Masih ada sudut nurani yang berontak. Sudut yang menolak terus-menerus membunuh nurani orang lain, menyikut sana sini, menumpuk kekuasaan. Buka usaha boleh, tapi delegasikan pada yang piawai, pada yang bisa menjaga kebersihan hati, agar apa yang diwariskan ke keluarga tetap steril.
Mungkin bagi saya, sebagian perilakunya brengsek. Tapi urusan keluarga, rasanya masih ingin memberi dari sumber yang baik. Dari sumber yang halal, yang jujur, yang tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Kadang, melihat itu membuat saya tersadar: hidup bukan soal jabatan, bukan soal angka atau prestise. Hidup adalah memilih, tiap hari, untuk tetap memberi dari yang baik, meskipun dunia di luar berisik, kacau, dan penuh kompromi.
Dan di sinilah letak pelajaran yang sederhana tapi tajam: bahkan senior brengsek pun, jika nuraninya hidup, masih bisa membuat pilihan yang benar.
0 komentar