Maaf Kalau Mengecewakan

by - 12:00 PM

Mungkin beginilah bunyi suara adik-adik mahasiswa itu sekarang, lirih tapi jujur: arahan kanda? Bukan soal strategi demo, bukan soal jargon. Mereka bertanya sambil menahan capek—capek jadi tameng, capek dibakar, capek dipanggil pahlawan tapi pulang dengan kantong kosong dan jadwal kuliah berantakan. Mereka melihat kanda-kandanya rapi, tenang, mapan, dan tiba-tiba bertanya: kok hidupmu adem, slow living, jualan, rumah tangga kelihatan damai?

Saat realitas itu disampaikan apa adanya, banyak yang mundur. Bukan karena pengecut, tapi karena akhirnya sadar: oh, ternyata ini bukan soal keberanian, tapi soal pilihan. Ada yang memilih bekerja sambil tetap marah pada sistem. Ada yang memilih ikut arus yang sama—membakar adik-adik berikutnya demi panjat sosial yang sah secara sejarah tapi busuk secara nurani. Dan jujur saja, aku pernah panas juga dibilang “mahasiswa payah”. Kata itu dulu rasanya seperti ludah di muka.

Tapi silakan, bagian “mahasiswa payah” itu biarlah jadi milik mahasiswa pergerakan. Aku lahir dari pelosok desa, dari dapur yang lantainya bukan marmer tapi nurani. Di tempatku tumbuh, hidup bukan soal siapa paling lantang, tapi siapa masih bisa menatap emak tanpa menunduk. Nurani bukan wacana, tapi alas kaki sehari-hari.

Maaf kalau aku mengecewakan. Maaf kalau aku yang dianggap piawai negosiasi justru tidak masuk barisanmu. Aku memang masih negosiasi—tapi bukan dengan pejabat, bukan dengan sistem. Aku negosiasi setiap hari dengan emak-emak Indonesia, yang beli daster sambil ngobrol soal cucian, soal suami, soal badan capek, soal hidup yang tidak pernah dibahas di mimbar pergerakan. Negosiasi receh. Domestik. Tidak heroik. Tapi nyata.

Dan mungkin di situlah aku berhenti jadi simbol, dan mulai jadi manusia.

You May Also Like

0 komentar