Checkout Dulu, Gengsi Belakangan: Catatan Kecil dari Abang Daster yang Kebanyakan Ngomong

by - 12:00 AM

Tidak ada yang heroik dari literasi digital versi saya.

Isinya cuma hal remeh:
cara masukin barang ke keranjang,
beda etalase boleh digabung,
jangan satu bayar satu bayar kayak lagi main capcipcup di kasir.

Jujur saja, ini pekerjaan membosankan.
Live daster kok malah jadi tutorial belanja.
Orang lain teriak “murah kak, tinggal 3!”
saya malah jelasin:
“anggap aja ini minimarket, kak…”

Kadang saya sendiri mikir:
ini jualan daster apa bimbingan teknis masyarakat?

Tapi anehnya, daster tetap habis.
Tanpa drama.
Tanpa teriak.
Tanpa marah-marah ke pembeli yang nanya itu-itu lagi.

Saya juga tidak tahu persis kapan jualannya terjadi.
Tiba-tiba stok kosong.
Pembelinya dari se-Indonesia.
Yang komentar sedikit, yang checkout diam-diam banyak.

Belakangan saya paham:
yang mereka beli bukan cuma daster.
Mereka beli rasa aman.

Aman untuk bertanya.
Aman untuk terlihat tidak paham.
Aman untuk belajar tanpa merasa jadi beban.

Literasi digital itu sering dibayangkan besar:
kelas, modul, sertifikat, jargon.
Padahal di lapangan, bentuknya bisa sesederhana ini:
satu orang sabar,
bahasa dapur,
dan kesediaan mengulang hal yang sama berkali-kali tanpa merasa lebih pintar.

Saya tidak sedang mengubah dunia.
Saya cuma memastikan emak-emak tidak boros plastik dan kertas thermal.
Tapi dari situ, mereka jadi nyaman.
Dan orang yang nyaman, jarang pelit.

Jadi kalau ada yang bertanya:
“Jualan dasternya kapan?”
jawabannya jujur saja:
saya juga tidak tahu.

Yang saya tahu,
selama orang merasa tidak ditertawakan,
checkout akan terjadi dengan sendirinya.

Sisanya?
Cuma daster berpindah tangan,
dan hidup berjalan seperti biasa—
remeh, tapi cukup. 😄

You May Also Like

0 komentar