Kembali ke Dapur Setelah Lulus dari Langit
Ada masa ketika saya ditarik-tarik masuk ke barisan penjual nasab.
Ditawari silsilah, dikunci dengan rasa bersalah.
Kalimatnya rapi, nadanya tinggi: kalau menolak, berarti tidak cinta Rasul.
Saya tersenyum.
Bukan karena meremehkan, tapi karena kalimat itu terasa asing di dada.
Puncaknya, saya nyeletuk—tanpa niat provokasi, hanya kejujuran yang lolos dari mulut:
“Manusia itu, kalau mengaku menyembah Allah tapi menciptakan neraka untuk sesama, buat apa? Saya lebih hormat pada orang yang menyembah pohon tapi tidak melumat yang lain.”
Hening.
Lalu label datang beruntun: animisme, dinamisme, syirik.
Saya mengangguk saja. Ya sudah.
Padahal hidup saya tidak dimulai dari luar pagar.
Saya lulusan pesantren.
Nilai paling tinggi.
Pendidikan formal cukup sampai kuliah.
Kitab kuning bukan hal asing, hafalan bukan barang langka.
Justru karena itu saya pulang.
Saya tidak pergi dari agama.
Saya pergi dari panggung.
Ada titik ketika langit terlalu sering dipakai untuk menghardik bumi.
Tuhan dijadikan stempel untuk marah,
surga dipakai sebagai iming-iming,
neraka dijadikan ancaman massal.
Di situ saya memilih balik ke dapur.
Dapur bukan simbol kemunduran.
Ia tempat api dijaga agar tidak membakar rumah.
Tempat bumbu diracik, bukan dilempar.
Tempat lapar dikenali sebagai lapar, bukan dianggap dosa.
Saya tumbuh dari sana.
Dari suara panci, dari bahasa ibu, dari rapalan yang tidak pernah mengklaim paling suci tapi selalu ingin selamat.
Sarata sarutu saluyu salamet ku kersaning Allah.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula walaa quwwata illa billah.
Bunyi boleh berbeda.
Arah batin sama:
mengakui keterbatasan,
menitipkan langkah,
dan tidak merasa berhak mengadili sesama.
Saya tidak sedang meromantisasi leluhur.
Saya juga tidak anti-ilmu.
Saya hanya menolak satu hal:
agama yang kehilangan dapur.
Agama yang tidak tahu lagi cara menanak empati.
Yang lupa bahwa manusia lebih dulu lapar sebelum disuruh taat.
Yang sibuk mengatur langit, tapi membiarkan bumi saling melumat.
Kalau itu membuat saya dianggap aneh, tidak apa-apa.
Kalau itu membuat saya dibilang kurang lurus, silakan.
Saya sudah tidak ingin lurus ke atas sendirian.
Saya ingin rata ke samping—bersama manusia lain.
Dan di titik itu, saya damai.
Bukan karena merasa benar,
tapi karena akhirnya tahu:
pulang bukan berarti mundur.
Kadang ia justru tanda bahwa kita cukup berani untuk berhenti melukai,
dan memilih merawat—
dari dapur,
dari batin,
dari rumah sendiri.
0 komentar