Catatan Manusia Waras di Tengah Kegilaan yang Diulang-Otomatis II

by - 6:00 PM


Awalnya cuma kecurigaan kecil.
Pesanan aneh.
Akun cantik.
Alamat random.
Order datang rapi, terlalu rapi—kayak bukan manusia yang belanja, tapi skrip yang sedang kerja shift malam.

Lalu besoknya: again.
Lusa: again.
Minggu depan: again.

Sampai akhirnya bukan lagi kecurigaan, tapi kesadaran kolektif:

“Oh… ini bukan salah satu orang. Ini ternak.”

Dan dari situlah parade korban dimulai.

Bukan cuma seller besar.
Bukan cuma brand mahal.
Yang tumbang justru rakyat jelata marketplace:

  • penjual kancut,
  • pedagang sempak,
  • penjahit kutang,
  • tukang rantang,
  • penjual tumbler,
  • sampai yang absurd: linggis pun kena.

Satu grup seller mendadak berubah jadi ruang trauma bersama.

Ada yang nulis:

“Saya jualan sempak, tapi kok sekarang begini ya hidup saya?”

Kalimat itu harusnya dicetak di kaos.
Eksistensial.
Filosofis.
Tragis.

Ada yang nangis bikin video:

“Barang saya habis… tapi bukan karena laku.”

Ada yang bengong:

“Saya jualan terasi, Bu… siapa yang mau nipu beginian?”

Jawabannya sederhana dan menyakitkan: karena bisa.

Ini bukan serangan ke produk.
Ini serangan ke mekanisme.

Order otomatis, maksimal 10 per toko per hari.
Cukup buat ngacau stok.
Cukup buat nyedot tenaga.
Cukup buat bikin seller salah napas.
Dan cukup kecil buat lolos radar… sementara.

Dan di titik ini, imajinasi liar mulai muncul.

Mantan buzzer politik?
Phone farm bekas pemilu?
Orang-orang yang dulu hidup dari klik, now galau karena panggungnya sepi?

Entahlah.
Yang jelas, ini bukan orang iseng.
Ini orang terlatih merusak ritme.

Lalu masuklah saya.
Si tukang daster.
Yang biasanya cuma ribut soal: “BB segini aman nggak, Kak?”
“Ini bahannya panas nggak?”
“Kencana Ungu sama Kuda Mas mending mana?”

Saya masih santai.
Banding.
Menang.
Banding lagi.
Menang lagi.

Sampai suatu hari…
paket retur datang.

Isinya: diapers bekas.
Bau.
Nyata.
Biologis.
Sangat manusia.

Di situ rem batin saya hampir jebol.

Ini bukan penipuan lagi.
Ini pesan emosional.

Semacam:

“Gue gagal nipu lu, jadi gue kirim jijik gue ke lu.”

Aneh ya?
Orang yang menipu ratusan seller,
ujung-ujungnya cuma bisa membalas dengan sampah.

Saya marah?
Enggak juga.

Lebih ke: anjay… segitu ya kapasitas marah lu?

Sementara di grup seller, tragedi terus bergulir.

Ada yang jualan sempak: menangis,
menyeka air mata…
pakai sempak baru.

Ironi yang bahkan satire pun kalah.

Marketplace kelimpungan.
500 akun diblokir.
Tumbuh 5.000.
Kayak hydra—dipotong satu, tumbuh lima.

Seller teriak:

“Gimana kalau kita kabur?”

Platform mikir:

“Kalau seller kabur, cuan siapa?”

Dan saya?
Sudah terlalu kenyang.

Rekap pola.
Tandai akun.
Kirim ke AM.
Batalkan massal.
Lanjut dagang.

Karena saya belajar satu hal penting dari semua kegilaan ini:

yang bikin panjang napas usaha bukan strategi canggih,
tapi kemampuan tetap waras di tengah kekacauan yang diulang.

Yang lain kelelahan marah.
Saya kelelahan… tapi masih bisa ketawa.

Karena pada akhirnya, ini semua cuma memperjelas satu fakta pahit:

Di ekonomi digital hari ini,
bahkan kancut, sempak, dan daster
bisa jadi medan perang
orang-orang yang sudah lama membunuh nuraninya sendiri.

Dan kalaupun besok kejadian lagi?

Ya sudah.

Again.
Catat.
Tarik napas.
Lanjut hidup.

You May Also Like

0 komentar