Saya Memilih Kalah, Supaya Masih Punya Wajah di Cermin
Mereka manusia.
Punya nurani.
Dan juga punya kemampuan untuk tersenyum tanpa nurani.
Itu bukan paradoks. Itu kenyataan.
Saya pernah naif, mengira semua yang duduk di kursi strategis pasti menyiapkan jalan keluar: buka usaha, cari cadangan, agar suatu hari bisa pergi dengan kepala tegak. Ternyata sebagian memang begitu—bukan karena mulia, tapi karena masih ingin memberi ke keluarganya dari sumber yang tidak membuat dada sesak.
Tapi di luar itu, saya melihat satu hal yang sama:
nurani bisa hidup, dan pada saat yang sama bisa disenyapkan.
Saya tidak mau belajar seni itu.
Bukan karena saya lebih suci.
Justru karena saya tahu diri saya lemah.
Saya tahu, kalau saya ikut bermain, saya bisa terbiasa.
Kalau terbiasa, saya bisa tertawa sambil menyakiti.
Kalau sudah begitu, saya tidak tahu lagi kapan berhenti.
Maka saya memilih kalah.
Mengalah.
Mundur beberapa langkah.
Bukan kalah secara ekonomi—saya masih bisa makan.
Bukan kalah secara martabat—saya masih bisa menatap anak saya tanpa berbohong.
Saya memilih hidup yang menampar diri sendiri setiap hari,
daripada hidup yang tampak menang tapi harus membius nurani agar bisa tidur.
Ini bukan keberanian.
Ini strategi bertahan.
Karena di dunia di mana banyak orang bisa tersenyum tanpa nurani,
menjaga rasa bersalah agar tetap hidup
adalah satu‑satunya cara saya tetap merasa manusia.
0 komentar