BAS, Seragam Lupa, dan Cambuk Imajiner di Tangan Miss yang Sudah Pensiun dari Galak

by - 6:00 AM

Ada satu momen kecil yang sering membuat saya tertawa sendirian:

membayangkan miss di sekolah anak saya memegang cambuk kecil tak kasat mata.

Bukan karena dia galak.
Justru karena dia tidak galak sama sekali.

Di kepala saya—yang tumbuh di era Buku Agenda Siswa seperti kitab pengawasan moral—
miss itu seharusnya berdiri di depan kelas, membuka BAS, mengerutkan dahi, lalu bertanya dengan suara berat:

“Kenapa kolom subuh kosong?”

Lalu ctarrr
bukan ke anak, tapi ke paha batin orang tuanya.

Masalahnya, itu semua cuma hidup di kepala saya.

Di dunia nyata, BAS anak saya sering kosong.
Bukan karena ia ateis subuh.
Tapi karena… ya namanya juga anak.
Kadang lupa.
Kadang ngantuk.
Kadang hidupnya belum serumit laporan malaikat Rakib dan Atid versi cetak kecil.

Dan anehnya, tidak ada cambuk.
Tidak ada ceramah satu jam.
Tidak ada hukuman berdiri di lapangan.

Paling banter:
“Besok diisi ya.”

Saya culture shock.

Begitu juga saat anak lupa membawa seragam eskul.
Di kepala saya, sistem pendidikan langsung aktif seperti alarm darurat:
ini pelanggaran disiplin, ini awal kehancuran moral bangsa, ini pintu menuju masa depan suram.

Saya sudah siap melihat drama.
Minimal tatapan kecewa.
Maksimal catatan merah.

Yang terjadi?

“Ya sudah, hari ini tetap ikut eskul. Minggu depan jangan lupa.”

Lah?

Sebagai lulusan sistem pendidikan keras, saya bingung.
Ini sekolah apa penitipan surga?

Di situ saya sadar, yang sebenarnya sedang diuji bukan anak saya.
Tapi saya.

Saya yang terbiasa hidup di bawah pengawasan.
Saya yang dididik dengan asumsi:
kalau tidak ditekan, manusia akan liar.
Kalau tidak ditakuti, anak tidak belajar.

Padahal anak saya belajar satu hal penting hari itu:
lupa bukan dosa abadi.
Kesalahan bisa diperbaiki tanpa dipermalukan.

Dan para miss itu—yang mungkin seangkatan atau bahkan lebih tua dari saya—
sedang melakukan pekerjaan paling berat:
tidak mewariskan kekerasan yang dulu mereka terima.

Saya bisa membayangkan mereka juga punya BAS versi trauma.
Punya ingatan tentang guru galak.
Tentang takut salah.
Tentang diam lebih aman daripada bertanya.

Sekarang mereka berdiri di kelas,
menyimpan cambuk imajiner itu di laci paling bawah,
dan memilih berkata:

“Tidak apa-apa.”

Dan anehnya, justru di situ disiplin tumbuh.
Bukan disiplin karena takut.
Tapi disiplin karena paham.

Saya menertawakan diri sendiri,
karena ternyata yang masih membawa cambuk itu…
saya.

Kalau BAS kosong, saya yang panik.
Kalau seragam lupa, saya yang curiga sistem rusak.
Padahal anak saya baik-baik saja.
Miss-nya baik-baik saja.
Dunia tidak runtuh.

Yang runtuh hanya satu hal:
keyakinan lama bahwa mendidik harus selalu keras.

Dan jujur saja,
menertawakan itu semua rasanya seperti terapi gratis.

Kalau mau jujur,
saya lega.

Karena ternyata,
pendidikan hari ini tidak sedang lunak.
Ia hanya akhirnya manusia.


You May Also Like

0 komentar