Gila Karena Ilmu Tidak Kesampaian, Atau Batin Belum Siap?

by - 6:00 PM

Saya mengamati manusia,

dan kadang yang tampak sederhana bagi orang lain, bagi sebagian orang bisa menjadi titik balik hidup.

Ada seseorang yang di vonis gila.
Cerita di baliknya: ia ingin belajar ilmu tertentu—ilmu pesantren dengan syarat ketat, disiplin yang membelenggu, dan pantangan yang panjang.
Ilmu itu seolah menuntut kesucian, kesabaran, dan kesiapan yang tidak setiap orang miliki.

Namun, ilmu itu tidak kesampaian.
Batin yang tidak siap, fisik yang belum terbiasa, ekspektasi yang terlalu tinggi, semuanya bertemu pada satu titik: runtuh.
Orang itu tidak gagal karena ilmu terlalu sulit.
Ia gagal karena batinnya belum matang menahan keruntuhan ekspektasi.

Lalu masyarakat berkata: gila.
Padahal, saya melihat bukan gila dalam arti sebenarnya.
Ia hanyalah orang baru—versi dirinya yang lahir dari kebingungan, dari kehancuran ekspektasi, dari proses adaptasi batin yang belum sempurna.

Bias sosial terlihat jelas:
apa yang tidak kita pahami, kita cap “gila”.
Apa yang membuat orang lain tak nyaman, kita kategorikan sebagai abnormal.
Padahal, itu hanya interaksi antara kesiapan batin dan tuntutan lingkungan.

Saya diam, mengamati, dan menyadari:
manusia bisa berubah menjadi “baru” karena tekanan yang tak kita pahami.
Dan dunia sering lupa, transformasi batin kadang tampak seperti kegilaan, padahal itu proses belajar yang paling jujur.

Ini bukan cerita tentang kegagalan,
bukan juga tentang ilmu yang terlalu berat.
Ini tentang ruang batin, ekspektasi, dan persepsi masyarakat yang menilai tanpa menengok kesiapan.

Satu hal jelas:
kegilaan itu kadang hanya label.
Yang nyata adalah manusia sedang belajar menjadi dirinya sendiri,
meski dunia melihatnya dengan mata bingung.

You May Also Like

0 komentar