Dunia Sementara, Tapi Tanggung Jawabnya Nyata (Jangan Disangka Akhirat Pakai Sistem Antrean)

by - 12:00 AM


Ada satu kalimat yang sering dipakai sebagai selimut paling empuk untuk kemalasan batin:
dunia ini cuma sementara.

Kalimat itu benar.
Tapi justru karena sementara, ia tidak boleh dijalani sembarangan.

Yang aneh, sebagian orang menafsirkan “sementara” sebagai alasan untuk melepas tanggung jawab. Seolah hidup ini ruang tunggu, bukan ladang kerja. Seolah cukup duduk rapi, wirid jalan, lalu menunggu akhirat datang seperti bus malam—tinggal naik, tanpa karcis, tanpa nomor antrean.

Padahal kalau dipikir pelan, logikanya terbalik.

Kalau dunia ini cuma sementara, maka setiap detiknya bernilai.
Kalau hidup ini titipan, maka cara menjalaninya adalah bagian dari amanah.
Dan kalau rezeki disebut min haitsu laa yahtasib—datang dari arah yang tidak disangka—itu bukan berarti datang tanpa sebab.

Yang sering luput:
“tidak disangka” itu soal persepsi manusia, bukan soal ketiadaan usaha.

Rezeki terlihat tiba-tiba karena kita tidak melihat prosesnya.
Karena kita tidak ikut berjaga di malam orang lain.
Tidak ikut lelah di siangnya.
Tidak ikut salah, jatuh, lalu belajar pelan-pelan.

Lalu ada yang berdiri dengan dada penuh ritual langit, sambil menuding ritual bumi sebagai bentuk kelalaian.
Bekerja dianggap cinta dunia.
Berpikir strategis dianggap kurang tawakal.
Mengatur hidup dianggap lupa akhirat.

Ironisnya, saat hidupnya buntu, ia tetap berharap hasil yang sama: cukup, aman, tenang.
Saat tidak datang, yang disalahkan bukan caranya menjalani hidup, tapi orang lain yang “terlalu duniawi”.

Di titik ini, min haitsu laa yahtasib berubah fungsi:
dari janji ketuhanan menjadi obat penenang ego.

Padahal ayat-ayat yang keras itu—
apakah kalian tidak berpikir?
apakah kalian tidak berakal?
bukan hinaan. Itu alarm.

Bahwa manusia tidak diciptakan untuk pasif.
Bahwa khalifah bukan jabatan simbolik.
Bahwa iman tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan ikhtiar, tapi menuntunnya.

Kalau dunia ini cuma sementara, maka ia bukan tempat untuk ditinggalkan—
melainkan tempat untuk dijalani dengan penuh kesadaran.

Akhirat bukan antrean tanpa nomor.
Ia hasil akumulasi pilihan.
Termasuk pilihan untuk bangun, bekerja, belajar, dan tidak menyebut kemalasan sebagai takdir.

Dan di sini saya berhenti.
Bukan karena sudah paling paham.
Tapi karena akhirnya tahu di mana berdiri:

beribadah, iya.
berpikir, iya.
bekerja sungguh-sungguh, iya.

Tanpa perlu memusuhi dunia
demi terlihat sedang mengejar akhirat.

You May Also Like

0 komentar