Ritual Langit Sudah, Ritual Bumi Jangan Ditinggal (Catatan Orang yang Pernah Nyinyir ke Hidupnya Sendiri)

by - 12:00 PM


Saya akhirnya sampai di titik ini: mengakui dengan tenang bahwa harta memang bukan segalanya—
tapi tanpa harta, banyak hal jadi jauh sekali.

Umrah jauh.
Sekolah bagus terasa jauh.
Bahkan sekadar beli kebutuhan dasar tanpa mikir dua kali pun rasanya mewah.

Dan saya paham betul, kalau masih hidup di lapisan bawah, stimulan paling mudah memang satu:
nggak usah ngoyo, dunia sementara, akhirat selamanya.

Kalimat itu manis. Menenangkan. Tapi juga berbahaya kalau dijadikan alasan berhenti bergerak.

Saya lihat anak saya rajin. Kadang mewakili kelas, tampil di depan. Siapa tahu nanti bisa masuk olimpiade, OSN, atau minimal percaya diri berdiri di depan orang banyak. Tapi saya sudah hafal betul narasi yang akan muncul:

“Tidak apa-apa anak tidak masuk barisan OSN, yang penting masuk barisan shaf shalat.”

Kalimatnya terdengar suci. Tapi sering lupa satu hal kecil:
hidup tidak berjalan satu dimensi.

Di saat yang sama, kita masih penerima bantuan.
PKH masih rutin.
BPJS gratis masih dipakai.
Dan anehnya, mulut tetap gatal memandang orang lain sambil bergumam dalam hati:
cih, kenapa dia bisa begitu ya?

Di situ saya berhenti.
Karena saya kenal wajah itu.
Itu wajah saya sendiri, beberapa tahun lalu.

Ini memang kemarahan ke diri sendiri.
Saya pernah ada di fase itu. Singkat, tapi cukup untuk meninggalkan jejak.
Fase ketika ritual langit digenjot habis-habisan, tapi ritual bumi dikerjakan sambil lalu.
Ketika kegagalan dibungkus takdir, dan kemalasan diberi jubah kesabaran.

Pelan-pelan hidup berubah.
Bukan karena saya tiba-tiba suci, tapi karena realitas memaksa saya belajar.

Saya pernah masuk rumah sakit yang menurut saya mahal.
Pintu mobil dibukakan satpam.
Nada bicaranya sopan.
Entah kalau waktu itu saya minta digendong ke ruang tunggu—rasanya dia akan mikir sebentar, lalu bilang, “Silakan pak.” 🤣

Dan di situ saya sadar:
ini bukan soal dimanja.
Ini soal akses.

Akses pada layanan.
Akses pada kenyamanan.
Akses pada pilihan.

Dan semua itu—suka tidak suka—punya hubungan langsung dengan ritual bumi yang dulu sering saya remehkan.

Sekarang saya tidak lagi alergi dengan kalimat dunia sementara. Itu benar.
Tapi saya juga tidak mau menjadikannya pembenaran untuk hidup asal-asalan.

Karena kalau dunia ini cuma “sementara”, justru seharusnya ia dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Bukan ditinggalkan sambil menunggu akhirat seperti antrean tanpa nomor.

Epilog ini bukan untuk menyerang siapa pun.
Ini pengakuan kecil:
bahwa saya pernah berdiri di sana, merasa paling benar, paling pasrah, sambil diam-diam berharap hidup berubah sendiri.

Sekarang saya tertawa mengingatnya.
Bukan karena merasa lebih tinggi.
Tapi karena akhirnya paham:

ritual langit itu penting,
tapi ritual bumi adalah cara kita menghormati hidup yang dititipkan.

Dan kalau hari ini saya masih belajar, masih naik-turun, masih kadang nyinyir ke diri sendiri—
ya tidak apa-apa.

Setidaknya sekarang saya tahu:
doa dan usaha bukan saingan.
Mereka seharusnya satu tim.

Dan saya pernah jadi orang yang lupa itu.

You May Also Like

0 komentar