Epifani di Tengah Debat Kartun (Maaf, Anime)
Saya sudah hafal polanya.
Setiap tulisan mentah saya dilempar, para enthusiast langsung keluar kandang. Saling cakar, saling klaim tafsir paling sahih, paling Oda approved, paling ngerti “makna terdalam”. Padahal yang dibahas sama-sama gambar bergerak dengan suara efek dor dor dor.
Kalau saya nyemplung ke tengah, saya sengaja bodoh.
“Iya iya, lu keren anjir. Cerita One Piece aja bisa lu ambil saripatinya.”
Saya akui. Saya validasi. Saya elus egonya dikit.
Tapi habis itu saya tusuk pelan:
“Plis, jangan egois juga. Nikmati aja ceritanya. Cukup jadi catatan diri sendiri.”
Biasanya mereka makin panas.
Karena bagi sebagian orang, tafsir itu bukan alat berpikir—tapi identitas. Kalau disentuh, rasanya kayak harga diri diinjak.
Saya lalu mundur, duduk manis, sambil nyatet dalam kepala:
“Oh… ini para pengangguran lagi debat kartun.”
Langsung ada yang teriak, tersinggung, napasnya megap-megap:
“INI ANIME, BUKAN KARTUN!”
Saya bengong sebentar, lalu jawab polos:
“Oh… kirain sama.” 🤣🤣🤣
Dan di situlah epifaninya muncul lagi.
Bukan tentang One Piece. Bukan tentang Usopp atau Van Augur.
Tapi tentang manusia yang lupa bahwa cerita itu untuk dinikmati, bukan untuk saling mematahkan leher.
Saya menulis bukan untuk mengajak perang tafsir.
Saya menulis buat catatan batin sendiri.
Kalau ada yang nyantol, syukur.
Kalau ada yang marah, ya sudah—itu bukan Pop Green saya.
Karena pada akhirnya, ini cuma cerita.
Yang jadi serius… manusianya. 😌
0 komentar