Min Haitsu Laa Yahtasib: Ketika Rezeki Tak Disangka, Tapi Hidup Dijalanin Asal
Saya tahu judul ini berbahaya.
Berbahaya bukan karena ayatnya—ayatnya suci, kokoh, dan tidak butuh dibela—tapi karena cara sebagian dari kita memeluknya terlalu erat sampai lupa bernapas. Dari jauh, tulisan ini memang tampak seperti hendak menyerang Al-Qur’an. Dari dekat, ternyata cuma menepuk pundak manusia sambil bilang pelan: “Mas, ini bukan ayatnya yang bermasalah. Ini cara kita duduk di hadapannya.”
Saya tumbuh dengan ayat-ayat yang menggetarkan, doa-doa yang dirapal sejak bangun tidur sampai mimpi buruk, dan keyakinan bahwa rezeki bisa datang dari tempat yang tak disangka-sangka. Saya tidak pernah membantah itu. Saya hanya lama-lama menyadari, ada pergeseran halus yang nyaris tak terasa: ayat yang seharusnya menguatkan langkah, berubah jadi sofa empuk untuk berbaring terlalu lama. Ritual langit dikerjakan nyaris seratus persen, sementara ritual bumi dijalani seadanya, lalu ketika hidup macet, dunia disalahkan, manusia disalahkan, bahkan usaha orang lain dicurigai sebagai terlalu duniawi.
Lucunya, rezeki yang “tidak disangka-sangka” sering kali dipersempit maknanya. Seolah rezeki itu cuma uang yang jatuh dari langit tanpa sebab, tanpa proses, tanpa peluh. Padahal saya melihat sendiri, ketika hidup dijalani dengan penuh ikhtiar—tanpa ritual tertentu yang dikeramatkan berlebihan—hasilnya tetap datang. Sama. Tenang. Masuk akal. Bukan karena ayat kehilangan daya, tapi karena ayat memang tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan akal.
Di titik ini biasanya alarm berbunyi: “Hati-hati, ini relativisme!”
Padahal bukan. Ini cuma pengakuan jujur bahwa ayat bukan jimat, doa bukan tombol instan, dan iman bukan jalan pintas untuk hidup asal. Ada bias berlapis di sini: ibadah diniatkan agar rezeki lancar, rezeki dikerdilkan jadi uang, lalu ketika uang tidak datang, batin membuat realitas baru—bahwa dunia memang sementara, dan ketidakbecusan hari ini akan dibayar lunas di akhirat nanti. Sebuah penghiburan yang terdengar religius, tapi diam-diam menunda tanggung jawab.
Saya tidak sedang menertawakan ayat. Saya sedang menertawakan kebiasaan manusia yang memakai ayat sebagai tameng dari koreksi. Karena aneh juga rasanya, ayat tentang rezeki sering dibaca, tapi ayat tentang berpikir, berusaha, berjalan di bumi, justru dilewati sambil lalu. Seolah Tuhan hanya mengurus langit, sementara bumi adalah urusan opsional yang bisa dijalani sambil setengah sadar.
Dan di situlah epifani kecil saya muncul—bukan ledakan, bukan wahyu tambahan—hanya kesadaran sederhana: mungkin rezeki memang datang dari tempat yang tak disangka, tapi hidup tidak pernah diminta untuk dijalani asal. Mungkin ayat itu bukan janji untuk bermalas-malasan, tapi undangan untuk tenang setelah berusaha. Bukan pembatal logika, melainkan pelindung batin saat logika sudah dipakai sepenuh tenaga.
Kalau tulisan ini membuat seseorang tersinggung, besar kemungkinan bukan karena ayatnya diserang, tapi karena kursi keyakinannya goyah sedikit. Dan itu tidak apa-apa. Goyah sebentar tidak membatalkan iman. Justru sering kali, dari goyah itulah kita belajar berdiri dengan jarak yang lebih sehat—antara langit yang kita doakan, dan bumi yang tetap harus kita pijak.
Saya menulis ini sambil tertawa kecil. Bukan tertawa meremehkan, tapi tertawa karena akhirnya paham: ayat tidak butuh dibela dengan emosi, Tuhan tidak butuh dijaga dengan kemarahan, dan iman tidak pernah takut pada pertanyaan. Yang sering panik itu cuma cara berpikir kita sendiri—yang keburu nyaman, lalu kaget saat diminta bangun dan berjalan.
0 komentar