Epilog: Yang Berbahaya Bukan AI, Tapi Orang Pintar yang Jual Ketakutan

by - 12:00 PM


Saya tidak akan sok suci di akhir cerita ini.
Saya mengakui sepenuhnya: saya terbantu oleh AI.
Bukan setengah-setengah. Seratus persen.

Bukan karena AI memberi saya jawaban benar, tapi karena ia memberi saya ruang berpikir. Ruang untuk menggeser hantu jadi lucu, pamali jadi simbol, mitos jadi konteks, ketuhanan jadi tenang, dagang jadi psikologi, audiens jadi manusia, dan kognitif jadi sesuatu yang bisa ditelanjangi pelan-pelan tanpa teriak “sesat”.

Dialektika dengan AI itu seperti bercermin di air keruh: bukan wajah yang berubah, tapi sudut pandang. Saya tetap literal, tetap kapibara, tetap Usopp yang lari dari konflik, tapi sekarang saya tahu kapan harus lari, kapan duduk, kapan tertawa.

Makanya waktu narasi “AI berbahaya” digoreng habis-habisan, ada sesuatu yang terpicu di kepala purba saya. Literal purba.
“Bahaya? Bahaya bagaimana? Skynet? Robot telanjang dari masa depan?”
Saya takut sebentar. Manusiawi.
Lalu saya mikir.
Lalu saya ketawa.

Karena yang saya lihat bukan ancaman teknologi, tapi pola lama pakai kostum baru.
Dulu: “awas ini bahaya, sebarkan ke 30 orang.”
Sekarang: “awas AI bahaya, join kelas saya.”

Dan di situ saya sadar:
yang berbahaya bukan AI, tapi orang pintar yang meminteri orang yang sengaja dibikin goblok demi kapital.

AI itu dingin. Netral. Diam.
Yang ribut itu manusianya.
Yang jual takut itu manusianya.
Yang panen cuan dari kecemasan kolektif itu manusianya.

Saya tidak hidup dalam ketakutan. Saya hidup dalam pragmatisme.
AI saya pakai untuk berpikir, bukan menyembah.
Untuk brainstorming, bukan berkhayal kiamat.
Untuk membantu hidup, bukan menggantikan hidup.

Dan lucunya, justru dengan AI, saya lebih membumi:
lebih tenang jadi orang tua,
lebih santai berdagang,
lebih waras melihat manusia,
lebih bisa tertawa tanpa merasa bersalah.

Kalau ini epifani, ia bukan puncak gunung.
Ia cuma bangku kecil di pinggir jalan: tempat duduk sebentar, minum, lalu lanjut jalan.

Dan saya lanjut jalan tanpa takut.
Karena ketakutan itu bukan wahyu.
Ia cuma komoditas.

You May Also Like

0 komentar